Top Social

Asyiknya Berlibur ke Bengkulu

Senin, 25 Januari 2021

                 Kemanapun pergi, pasti kampung halaman akan selalu dirindukan. Karena tak ada satu pun tempat yang menyimpan cinta seluas samudera, kecuali satu, yakni keluarga.

                Bengkulu, merupakan tempat yang selalu aku rindukan ke mana pun dan sejauh apapun aku melangkah.  Walau bukan orang Bengkulu asli, tetapi darah Serawai mengalir padaku dari garis keturunan Bapak. Sementara ibuku berasal dari suku Sunda, jadilah aku ini perpaduan suku Serawai dan Sunda, :) . Untuk orang-orang yang memang berasal dari Bengkulu, pasti sudah tak asing dengan suku Serawai. Ya ,karena memang suku ini termasuk suku besar di daerah Bengkulu.

                Aku sendiri menghabiskan hampir separuh hidupku di kota Bengkulu.  Walau saat ini aku kembali merantau ke luar Bengkulu karena ikut suami, yakni ke Jakarta. Sebelumnya aku juga tidak tingggal di Bengkulu, karena dari sejak lahir hingga berumur 8,5 tahun aku tinggal di Nusa Tenggara Timur.

                Nah,kali ini aku akan sedikit berbagi cerita tentang keseruanku berlibur di Bengkulu saat bulan Oktober hingga November 2020 lalu. Lagi-lagi liburan ke Bengkulu ini bukanlah rencana kami sekeluarga pada awalnya, karena sebelumnya kami berencana ke Kendari saat lebaran. Tetapi karena tingkat penyebaran covid19 masih sangat tinggi saat itu, maka kami memutuskan untuk membatalkan rencana kami untuk mudik ke Muna, Kendari (kampung halaman suami).

                Awal Oktober 2020 lalu, pemerintah DKI kembali melakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), hal ini kemudian menyebabkan suamiku kembali WFH (Work From Home). Awalnya saat penerapan new normal, suamiku sudah menggunakan sistem shift saat bekerja, yakni 1 minggu WFH dan satu minggu selanjutnya WFO (Work From Home), tetapi karena adanya PSBB total, akhirnya suamiku kembali WFH. Nah pada saat berhari-hari WFH ituah, entah mengapa akhirnya ia memiliki ide untuk berlibur ke Bengkulu (lagi-lagi ajakan mendadak yang di luar rencana).



Berfoto bersama Abi Ayya
di salah satu spot foto di Wisata Tebing Suban Curup, Bengkulu

 “Neng (panggilan sayang dari suami, hehe), kita kayaknya pulang ke Bengkulu saja deh? Ayok kita cek tiket!,” ujarnya malam itu.

“Ah yang bener Bang?(panggilan sayangku padanya adalah abang, wkwk), kok tiba-tiba? Terus nanti gimana di jalan? Aku kok takut kena covid ya?,” jawabku ragu.

“Nggak apa-apa, kita pake masker dan faceshield, insyaAllah aman,” ujar suamiku saat itu.

            Okelah kalau begitu, karena sudah diyakinin, akhirnya aku cek tiket pesawat di traveloka, setelah itu aku segera registrasi pembayaran dan finally kita fix akan ke Bengkulu pada tanggal 18 Oktober 2020 dengan pesawat Citilink. Aku berencana bersama Ayya (anak perempuanku yang berusia 2 tahunan) akan berlibur di rumah Mamaku (Bengkulu) sekitar satu bulanan, sementara suamiku hanya sekitar 1 minggu saja di Bengkulu, karena ada beberapa urusan penting yang hanya bisa dikerjakan di Jakarta.

                Saat itu rasa-rasanya aku amat senang sekali bisa pulang ke Bengkulu. Sudah kubayangkan aku akan pergi kemana saja nanti saat tiba di sana. Beberapa destinasi wisata sudah menjadi incaranku. Hal ini wajar menurutku membuatku excited, karena selama covid 19 di Jakarta ini kami memang tidak pernah ke mana-mana, kecuali keluar untuk keperluan yang benar-benar penting, seperti berbelanja keperluan rumah di tukang sayur ataupun pasar atau indomaret dan warung dekat rumah, berolahraga jalan santai sekitaran rumah dan juga pergi ke dokter jika ada yang sakit. Selebihnya,kami hanya berdiam diri di rumah, dari Senin ke Minggu, dari Minggu keSenin, begitulah selama hampir 7 bulan lamanya.



Perjalanan ke Bengkulu

                Alhamdulillah pesawat kami tiba di Bengkulu tepat waktu, yakni sekitar pukul 2 siang. Selama di jalan,kami sangat waspada, aku dan Abi Ayya menggunakan masker dan faceshield, Ayya yang baru berusia 2 tahun juga tak lepas dari masker, hanya saja ia agak risih dengan faceshield,sehingga faceshieldnya tidak digunakan lagi saat berada di bandara, hanya bertahan saat perjalanan dari rumah kami menuju bandara saja (kami menggunakan Gocar menuju bandara). 

                                                            

Ayya dan Abi Berposedi Bandara Soetta
sebelum naik ke pesawat menuju Bengkulu

                Selain itu, di tasku aku juga tak lupa sediakan handsanitizer, nah hal ini aku gunakan setiap saat, saat usai melakukan registrasi atau memegang fasilitas umum apapun yang ada di Bandara Soetta hingga Bandara Fatmawati Bengkulu. Hal ini juga berlaku untuk Abi dan Ayya tentunya. Saat di Bandara, kami sesekali minum, sebenarnya hal ini membuatku agak was-was, takut terserang virus, tetapi mau bagaimana lagi, sembari mengucap bismillah dan terus berdoa agar tidak terserang covid 19, aku tetap berpositif thinking bahwa insyaAllah perjalanan ini aman. Apalagi di atas pesawat Ayya sempat minta susu,di mana kami harus membuatkan susu untuknya di atas pesawat. Hal ini tentunya membuat aku tambah was-was, tetapi lagi-lagi aku tetap berdoa dan bermunajat pada Allah,semoga kami sekeluarga terlindungi dari virus covid 19 selama perjalanan.

                Tiba di Bengkulu kami bertiga dijemput Bapak, kemudian kami pergi ke rumah orang tua ku yang berada di Jalan Timur Indah, sekitar 20 menit jaraknya dari Bandara. Tentunya di rumah sudah menanti mama ku dan para keponakan. Ah.. rasanya rindu sekian lama terbayarkan karena bisa bertemu dengan keluarga secara langsung.

               

Beberapa Destinasi Wisata  yang Kami Kunjungi Saat Berlibur di Bengkulu

1.Pantai Panjang

Tak lengkap rasanya ke Bengkulu, kalau tidak mengunjungi Pantai Panjang. Pantai ini amat indah, apalagi ketika kita mampu menangkap sunset yang indah di sore hari. Jarak Pantai Panjang sendiri tak jauh dari pusat kota Bengkulu, yakni sekitaran 20 menit jika ditempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor. Untuk memasuki area wisata ini sendiri sama sekali tidak dipungut biaya. Hanya saja kita akan dikenakan tarif parkir dan juga wajib membeli makanan seperti minimalmemesan kelapa muda ketika menyewa tempat duduk yang ada atapnya (atap terbuat dari daun rumbia atau terpal yang menyerupai payung) di sekitaran kawasan wisata.

Saat itu kami mengunjungi pantai Panjang di siang hari sekitar jam 11 siang, tentunya kami membawa bekal dari rumah, berupa nasi ayam goreng, rujak dan juga kerupuk. Memang menu yang kami biasa saja,tetapi ketika dimakan dengan view pantai, tentunya rasanya jadi berbeda.

Makan Bersama Keluarga di Pantai Panjang


2. Kebun Jeruk Pekik Nyaring

Saat berada di Jakarta, kawasan ini sempat viral di media sosial. Hal inilah yang membuatku ingin berkunjung ke sana.Tapi sayang sekali, saat sudah berada di sana, kebun jeruknya ternyata ditutup karena sedang tak berbuah. Kabarnya akan dibuka kembali jika sudah musim buah. Tapi tentunya hal menyenangkan tetap kami dapatkan, karena sepanjang  jalan menuju kebun Jeruk di Pekik Nyaring, kami melihat pemandangan sawah hijau yang terbentang luas di sisi kanan jalan.Wah, masyaAllah Hijau! Sangat sejuk rasanya! (Hah, rasanya bahagia melihat sawah secara langsung, karena selama di Jakarta, kami tinggaldi kawasan padat penduduk, di mana pemandangan sawah sulit untuk didapatkan.

3. Pulau Kumayan

Nah, destinasi wisata yang satu ini juga wajib dikunjungi, lagi-lagi karena viral di media sosial, aku sangat ingin mengunjunginya. Kawasan ini adalah kawasan Hutan Bakau yang menurutku cukup instagramable, lokasinya ada di kecamatan Sungai Serut Kota Bengkulu. Banyak sekali  arena bermain anak di sana, seperti ayunan, rumah-rumahan pohon dan beberapa spot foto menarik. Nama Kumayan ini sendiri ternyata berarti Bambu, karena kawasan ini awalnya dipenuhi banyak sekali pohon bambu. Namun sayang, saat aku dan suami akan berfoto di sekitaran kawasan hutan bakau, hujan deras tiba-tiba datang,sehingga kami hanya sempat foto ala kadarnya saja di depan salah satu pohon bakau. Rasa-rasanya ingin ke sana lagi suatu saat nanti. Untuk masuk ke kawasan wisata ini,per orang ditarik tarif sekitar Rp3.500,-

Mau Mengambil Foto di spot foto yang lebih keren,
keburu hujan deras datang, jadilah foto ala kadarnya. :D


4. Tebing Suban

Kawasan destinasi wisata ini juga jangan lupa dikunjungi ketika di Bengkulu. Kawasan wisata ini juga sangat instagramable, berada di Kabupaten Curup, Rejang Lebong. Berjarak sekitar 4 jam,jika ditempuh dengan kendaraan bermotordari kota Bengkulu. Suasana di Tebing Suban ini amat menyenangkan,karena kita bisa menatap sekitaran Curup dari atas Tebing. Selain itu,juga terdapat miniature rumah beratap segitiga yang amat menarik untuk dijadikan latar foto. Di kawasan wisata ini juga tersedia area bermain anak yang didesain menarik,seperti ayunan berbentuk pohon, perosotan dan juga ada trampoline.

                                             


Cantiknya pemandangan di Wisata Tebing Suban Curup

5. Kebun Jeruk di daerah Curup

Untuk Kebun Jeruk di daerah Curup sendiri, sebenarnya merupakan hal yang kutunggu-tunggu untuk mengunjunginya. Karena belum berhasil berkunjung ke Kebun Jeruk yang ada di Bengkulu (yang di  daerah Pekik Nyaring) maka aku kekeuh untuk mengunjungi kebun jeruk yang ada di Kabupaten Curup. Berbekal tanya sana-sini dengan pedagang di pinggir jalan Curup, maka kami menemukan kebun jeruk tersebut. Jalan meuju kebun jeruk tersebut berada tak jauh dari lokasi Tebing Suban, daerahnya yakni sebelum Rumah Susu di daerah Rejang Lebong dan juga sebelum Objek Wisata Danau Mas. 

Ayya berpose bersama Kakek di Kebun Jeruk
Buahnya amat lebat ya.


Di lokasi ini setiap orang yang masuk wajib dikenakan tarif Rp10.000,- (tidak berlaku untuk anak di bawah 10 tahun) dan ketika memetik buah jeruk wajib membeli, di mana dikenakan harga Rp20.000,-/kgnya. Jenis jeruknya bukanlah jeruk Lebong (jeruk berkulit tebaldan manis, melainkan jeruk keprok). Tetapi berwisata di kawasan ini amat sejuk dan mata kita amat terhibur dengan melihat suasana kebun jeruk yang amat hijau.

              

Rimbun dan suburnya Pohon Jeruk


    Seru sekali bukan perjalanan liburanku selama di Bengkulu? Nah,bagi kalian yang belum pernah ke Bengkulu, bolehlah suatu waktu menyempatkan diri untuk berwisata ke kampung halamanku ini. Masih banyak sebenarnya destinasi wisata yang menarik lainnya, seperti Benteng Marlborough, Rumah Pengasingan Bung Karno, Pantai Tapak Paderi dan masih banyak lagi tentunya. 

Sekeping Cerita Berjudul Jodoh

Senin, 18 Januari 2021

          Adalah suatu hal yang tak bisa kita terka-terka, baik itu terkait dengan takdir kehidupan yang kita jalani, dengan siapa kita akan menjalaninya maupun dengan cara apa kita akan dikembalikan padaNya. Keseluruhan hal itu sudah tercatat dalam lauh mahfuudz, sudah tercatat dengan amat rapi. Oleh karenanya, tak ada sesuatu yang kebetulan di dalam dunia ini.

 

Usia 24, ketika Mama sudah sering bertanya.

          Bagi sebagian orang, mungkin usia 24 adalah masa di mana seseorang sedang asyik-asyiknya mengejar karir atau ada juga yang masih menyelesaikan studi, atau bisa jadi ada yang sedang sibuk mengurus keluarga. Nah satu di antara pengelompokan tiga orang tersebut ada aku di dalamnya, seseorang yang sedang menyelesaikan studinya. Saat itu sekitar tahun 2015 aku adalah salah satu mahasiswa tingkat akhir yang sedang berjuang menyelesaikan studi di tanah perantauan, yakni Yogyakarta. Jauh dari orang tua dan sanak keluarga, belum lagi saat itu aku menggunakan tongkat kruk karena patah kaki saat kecelakaan motor di Pacitan, belum lagi deadline tesis yang selalu memanggil-memanggil, membuat diriku terkadang seringkali menangis di kamar kost. Jika sudah tak kuat, terkadang tetangga kost menjadi tempat curahan hati yang paling pas untuk menumpahkan uneg-uneg. Mungkin saja sahabatku (orang asli Madiun), yang kamarnya berseberangan dengan kamarku sudah sangat maklum, ketika aku masuk kamarnya dan menangis sesenggukan karena kadang bingung mau menulis apa lagi dalam tesis. Bukan perkara mudah, karena entah mengapa, metode penelitian yang kupilih waktu itu cukup sulit untuk kupahami. Padahal awalnya metode itu kupilih karena kusangka mudah untuk dikerjakan, karena hanya studi literature saja tanpa harus menggunakan responden ataupun wawancara saat pengumpulan data. Namun ternyata setelah kudalami dan kukerjakan, metode itu amat sulit kupahami. Belum lagi judul yang kupilih, pada akhirnya menggiring aku untuk memahami politik populis, di mana literatur tentang politik populis sangat jarang sekali yang berbahasa Indonesia, sehingga aku harus menerjemahkan lembar demi lembar berbahasa Inggris sendirian tanpa bantuan penerjemah. Rasa-rasanya ingin menyerah di judul tersebut, namun menurutku sangat tanggung jika tidak diselesaikan dan harus mengulang dari awal dengan judul baru.

         

sumber gambar tokopedia.com
        Belum lagi telepon yang hampir setiap hari datang dari orang tua, khususnya mamaku, “Sudah sampai mana tesisnya? Jangan kebanyakan main ya, setiap hari harus dikerjakan, apalagi sekarang Bapak sudah pensiun, kamu harus segera selesai kuliahnya,” ujar mamaku setiap kali menelepon. Belum lagi nanti beliau bercerita bahwa anak teman-temannya sudah pada kirim undangan ke rumah. “Tuh Yu, mama sudah dapat undangan lagi dari anaknya ‘tante ini’ dan anaknya ‘tante itu’, kayaknya mereka seumuran kamu deh, kira-kira kamu kapan ya cetak undangan? Ngomong-ngomong kamu udah ada yang deketin belum sekarang? Harusnya tuh ya umur kayak kamu itu sudah ada calonnya,ya paling nggak orang yang mau ngajak  serius gitu,” ujar mamaku panjang lebar. “Iya deh iya, nanti juga kalau sudah ada jodohnya bakalan cetak undangan juga kok Ma, tenang aja,” jawabku. “Lah iya, kalau tidak ada usaha, mana ada jodoh tiba-tiba datang, minimal sudah ada ‘pegangan’ (pegangan di sini maksudnya orang yang dekat dengan anaknya menurut mamaku) gitu loh.” “Lah kalau pegangan itu ya ke Alqur’an dan hadits toh Ma, bukan sama orang lain, hehe,” aku kembali menjawab dengan nada bercanda.

          Ya begitulah hari-hariku saat itu di perantauan, aku hanya terus berdoa agar nantinya tesis ini segera selesai, sehingga bebanku yang cukup menyita waktu ku saat itu bisa terlepas. Walau kadang lelah melanda, tetapi aku tetap optimis untuk bisa selesai walau kondisiku saat itu terbatas. Benar-benar tak menyangka sebelumnya bahwa aku harus menggunakan kruk saat berjalan dan menumpang ojeg motor saat harus pulang pergi ke kampus. Tapi aku yakin, semua ini akan berakhir, semua ini akan selesai. Kadang ada saja hal-hal yang mungkin jika diingat sekarang cukup membuatku bersedih, ketika di mana aku seringkali hanya melamun di perpustakaan tanpa menulis apapun. Sampai-sampai diingatkan pegawai perpus bahwa perpustakaan akan tutup, sementara aku tak sadar kalau sudah taka da lagi pengunjung perpus saat itu. Belum lagi ada perasaan minder yang kadang menerpa, di mana orang lain bisa berjalan dan berlari, sementara aku hanya bisa berjalan sedikit demi sedikit dengan tongkat kruk. Tapi aku yakin, sangat yakin, suatu saat aku bisa sembuh juga.

          Dan ternyata satu persatu doaku terjawab. Setelah menulis tesis sekitar 10 bulan lamanya pascacuti (karena kecelakaan), akhirnya aku diberikan kesempatan untuk mengikuti sidang tertutup dan dinyatakan lulus di pertengahan tahun 2016. Merupakan suatu kenyukuran juga, karena saat menjalani sidang aku sudah tidak menggunakan kruk lagi dan saat wisuda aku sudah bisa berjalan dengan normal. Dan tentunya pertanyaan mamaku terkait jodoh masih saja berjalan, “kira-kira kapan nih anak mama kirim undangan?.”

 

Kembali dari Perantauan

            Sesudah wisuda, aku pulang kembali ke Bengkulu. Saat itu aku menjadi salah satu tenaga pengajar di salah satu universitas swasta di Kota Bengkulu. Selain itu aku juga menjadi tenaga pengajar di IAIN Bengkulu dan juga UT (Universitas Terbuka). Jam mengajarku cukup padat saat itu karena harus mengajar di 3 universitas sekaligus. Belum lagi aku juga harus mengajar di luar Kota Bengkulu, karena mengajar UT.

sumber gambar elevenia.co.id

                Karena saat mengajar aku masih lajang, ada saja orang-orang di tempatku bekerja yang menjodoh-jodohkan diriku dengan rekan kerja lainnya. Belum lagi mahasiswa-mahasiswa iseng yang terkadang menjodohkan aku dengan teman-temannya, menurutku ada-ada saja mereka ini, maklum, karena saat itu aku memang sedang tidak dekat dengan siapa-siapa. Karena menurutku, untuk seusiaku saat itu, bukan saatnya lagi untuk main-main berkenalan dengan lawan jenis. Aku tentunya lebih memilih untuk berkenalan dengan orang lain yang memang mau mengajakku serius.

          Tentunya bukan satu dua kali teman-temanku menjodohkanku. Tapi entah mengapa aku yang saat itu kurang sreg atau terkadang malah ditinggal menikah duluan tanpa ada petemuan di awal (jadi cuma sekedar dijodoh-jodohkan saja, kasian bener sih aku waktu itu :D). Aku sih hanya bisa menguatkan doa saja, semoga aku dijodohkan dengan orang yang sholeh dan juga sesuai dengan kriteriaku tentunya, aku ingin sekali memiliki jodoh seorang dosen, tapi kalau memang bukan dosen tak apalah, yang penting sholeh.

 

          Ketika Harus Memilih

Di antara 3 pilihan
Sumber Gambar shopee.co.id

Pilihan Pertama

  Seiring berjalannya waktu, aku hanya menyibukkan diriku dengan bekerja. Aku menikmati hari-hariku sebagai seorang pengajar saat itu. Singkat cerita ada suatu pekerjaan yang membuatku harus sering lembur di kampus swasta tempat aku mengajar. Tentunya saat lembur hingga malam hari, kami juga ditemani dengan rekan kerja laki-laki. Saat itu ada satu rekan kerja yang seringkali aku tanyakan soal pekerjaan yang sedang dikerjakan dan otomatis aku cukup sering berinteraksi dengannya. Pada akhirnya bukan saja urusan pekerjaan yang sering kami diskusikan, tetapi juga seringkali bertanya tentang tahun lahir dan keluarga masing-masing. Belum lagi kami seringkali berbagi cerita tentang visi misi hidup ke depannya dan menurutku saat itu kami satu visi misi, namun ternyata rekan kerjaku saat itu terpaut usia dua tahun di bawahku.

          Karena seringkalinya kami berinteraksi, maka rekan kerja kami yang lain seringkali mengganggu kami, bahkan ada yang bilang, “sudah buruan lamar saja, nanti keburu diambil orang.” Tentunya rekan kerjaku saat itu hanya tersenyum saja. Kalau ditanya saat itu, tentunya rekan kerjaku ini memenuhi salah satu kriteriaku, karena saat itu ia juga seorang tenaga pengajar di perguruan tinggi. Tapi ya aku biarkan saja mengalir apa adanya, toh menurutku kami juga baru saja berkenalan. Walaupun terkadang pembicaraan kami ada yang mengarah-arah ke arah pernikahan.

 

Pilihan Kedua

          Mengajar di UT mengharuskan aku untuk mengajar di luar Kota Bengkulu. Salah satu Kabupaten yang berjarah 4 jam dari kota Bengkulu saat itu menjadi tempatku untuk mengajar di sana setiap hari Sabtu dan Minggu. Qadarullah, saat itu salah satu temanku sesama orang Bengkulu baru saja menyelesaikan studi Masternya di UGM dan sedang mengunjungi kedua orang tuanya di kabupaten tempat aku mengajar.

          Temanku yang saat itu mengetahui bahwa aku sedang mengajar di sana, seringkali mengunjungiku di tempat mengajar seusai aku mengajar dan suatu hari, ia mengundangku untuk makan siang dan berkenalan dengan keluarganya. Ia berkata padaku bahwa aku adalah satu-satuya teman perempuan yang ia perkenalkan pada keluarganya. Dan saat lebaran tiba, ia juga berkunjung ke rumahku dan aku berkunjung ke rumah tantenya. Saat aku berkunjung ke rumah tantenya, aku malah ditanya pertanyaan yang membuatku cukup terkejut,”Ayahnya itu sudah ingin menantu, keponakanku itu orang yang baik loh,jadi tunggu apalagi?.” Aku hanya tersenyum, “Loh Tante, aku ini cuma temenan  loh sama keponakan Tante,” ujarku saat itu. Saat aku ceritakan perihal pertanyaan itu pada temanku, dia malah berkata,”Kenapa tidak diiyakan saja sih,” ujarnya sambil tersenyum.

          Entahlah aku juga tak mengerti saat itu apa maksud semua ini, yang jelas ketika ia bertanya padaku, kriteria pasangan hidupmu apa sih? Lagi-lagi aku menjawab, kalau bisa sih dosen. Dan dia hanya menjawab, sayangnya aku bukan dosen. Tapi aku berkata lagi pada waktu itu, kan kalau bisa, kan yang penting sholeh. Dan selanjutnya tak ada lagi pembicaraan soal jodoh atau apalah itu terkait pernikahan, walau  sesekali waktu kami masih bersilaturahmi melalui pesan WA.

 

Pilihan Ketiga

          Aku yang saat itu masih ingin mendapatkan kesempatan bekerja di tempat lain,mencoba untuk mencari link-link yang tentunya membuatku bisa mendapatkan informasi tentang lowongan pengajar. Saat aku membuka salah satu profil pertemanan di Fb ada profil salah seorang pengajar di Universitas Bina Nusantara Jakarta. Tak lama setelah aku add pertemanan,orang tersebut justru mengirim message Fb padaku. Ia berterima kasih padaku karena sudah menjadikan ia temannya dan ia bertanya padaku apakah aku ke Bengkulu ikut suami atau bagaimana. Ya jelas bukan ikut suami, toh menikah saja belum. Aku juga ingat,kalau orang ini sepertinya dulu pernah sekelas denganku saat di UGM, hanya saja ia adalah mahasiswa S3 yang ikut kelas kami saat itu karena dosennya sama. Aku juga ingat bahw aku sering berpapasan dengannya saat di perpustakaan pusat, tetapi kami sama sekali tak pernah saling sapa.

          Hingga akhirnya, orang ini meminta nomor WAku. Entah apa yang membuat ia seringkali bertanya padaku layaknya orang yang sedang sensus penduduk. Adapun pertanyaannya seperti, orang tua kerja di mana, berapa bersaudara, asal orang tua dari mana, kriteria suami bagaimana. Loh menurutku kok orang ini aneh sekali, baru juga kenal kok pertanyaannya banyak sekali.Sampai-sampai aku curhat dengan sahabatku, kenapa orang ini, kok banyak sekali tanya? Sahabatku kemudian berinisiatif bertanya padanya perihal pertanyaan-pertanyaan yang ia berikan padaku. Sahabatku bertanya padanya melalui pesan FB  maksudnya apa ya bertanya begitu dengan Yue? Kalau memang mau mencari jodoh, sahabatku itu juga sedang mencari jodoh, jadi jangan kebanyakan basa-basi. Pesan sahabatku dijawab iya saya sedang mencari jodoh, tetapi saya ingin selesaikan studi doktoral dulu yang akan selesai sebentar lagi dan nanti saya insyaAllah akan ke Bengkulu.

          Saat itu tentunya ada rasa GR di dalam diriku, tetapi ah apalah artinya kata-kata kalau tanpa pembuktian. Malah ada beberapa waktu saat itu kami lose contact. Aku pasti merasa kecewa, dalam pikiranku ah sudahlah mungkin belum jodohnya,memang belum waktunya aku menikah dalam waktu dekat ini.

 

Saatnya Membuat Keputusan

          Hari demi hari berlalu, untuk ketiga orang ini, masih saja memberikan kabarnya melalui pesan WA padaku. Apalagi rekan kerjaku itu, sekali dua waktu pasti kami bertemu.Walau mengajar di satu kampus yang sama, namun gedung kuliah kami berjauhan sehingga kami tak sering bertemu. Untuk temanku yang satu itu (yang baru saja lulus UGM), ia sedang berjuang mencari pekerjaan, hingga kabar akhir kuterima darinya bahwa ia telah diterima menadi salah satu tenaga kontrak di salah satu dinas pemerintahan di Pulau Jawa.

Aku hanya berdoa, siapapun di antara ketiga orang ini yang akan mengkhitbahku terlebih dahulu, maka itulah yang akan aku terima, siapapun itu. Karena menurutku, tak baik juga berlama-lama melajang, apalagi terkadang interaksi yang menurut kita biasa-biasa saja melalui pesan WA, bisa jadi dianggap berbeda oleh orang lain.

   

Finally
Sumber gambar : bungabuket.com

              Hingga pada akhirnya aku pun mendengar kabar, bahwa pak Dosen dari Binus sudah selesai ujian disertasinya dan ia menghubungiku bahwa akan ke Bengkulu dalam waktu dekat. Saat ke rumah orang tuaku sama sekali ia tak membicarakan tentang pernikahan, hanya seperti bersilaturahmi biasa saja. Aku juga bingung pada awalnya. Hingga akhirnya sebelum ia pulang kembali ke Jakarta,aku mengantarkan sarapan ke hotel tempat menginapnya yang ada di Panorama, Lingkar Timur saat itu (ternyata perkara mengantar makanan untuk sarapan inilah yang kemudian membuatnya yakin bahwa akulah orang yang tepat untuk menjadi teman hidupnya; hal ini kuketahui setelah kami menikah :) ).

           Saat ia tiba di Jakarta, saat malam hari ia memberikan pesan WA padaku, isi pesan WA nya ‘ada baiknya kita menikah saja’. Aku saat itu cukup terkejut, lalu aku mengirim pesan balasan ‘yang benar ini? Masa iya?’ Dan jawabannya ‘iya’. Aku menceritakan pada mamaku perihal ini dan mamaku berkata kalau memang serius, silahkan datang kembali ke rumah dan langsung melamar dalam waktu dekat. Selang dua bulan, ia pun kembali ke rumah dan langsung melamarku. Walau setelah lamaran, rekan kerjaku berkata bahwa rekan kerjaku sesama pengajar di Bengkulu yang kuceritakan sebelumnya berencana akan melamarku juga dalam waktu dekat dan ternyata terlambat karena aku sudah dilamar. Saat aku datang ke kampus dan mengantar udangan padanya, ia berjanji akan datang, walau akhirnya kami tak pernah bertemu lagi hingga saat ini.

 

Yakinlah, Suatu Waktu Doamu akan Terkabul

          Ternyata, perkara jodoh itu mudah jika sudah waktunya. Sedari dulu aku memang menginginkan pasangan hidup seorang dosen dan akhirnya Allah kabulkan. Walaupun memang banyak ujian yang harus dijalani sebelum menemukannya. Dan pasti akan banyak ujiannya sebelum terkabulnya doa-doa tersebut.

          Tentunya banyak sekali lika-liku yang harus dilewati sebelum bertemu dengan jodoh. Bukan sekali dua kali aku merasa sepertinya ini adalah jodohku, walau terkadang saat sudah merasa klop, tetap ada saja halangan dan rintangan, hingga akhirnya tak jadi. Memanglah sabar dan doa yang akhirnya menjadi teman penantian saat itu, hingga akhirnya penantian itu berujung juga.     

         

Sekeping Cerita yang Semoga dapat menjadi Hikmah


Staycation Penghujun Tahun 2020 di Yello Hotel Harmoni Jakarta Pusat

Senin, 11 Januari 2021

 

Staycation merupakan alternatif bagi kami sekeluarga untuk mengisi liburan akhir tahun. Tadinya kami tidak merencanakan sama sekali untuk liburan di luar rumah di akhir tahun 2020, hal ini dikarenakan masa pandemi akibat covid19 yang masih belum usai. Tetapi dikarenakan kami pun merasa jenuh dan bosan berhari-hari di rumah, aku pun mempunyai ide untuk mencoba staycation di salah satu hotel yang ada di Jakarta. Dan ternyata ideku ini disambut baik oleh pak suami, padahal awalnya aku hanya iseng saja berbicara, sembari ragu bahwa ideku ini akan diiyakan oleh pak suami. “Yuk kita staycation aja yuk? Daripada gabut di rumah terus, hehe,” candaku saat itu. “Oh iya, boleh juga, kalau tidak ayo kita sesekali nginap di Puncak yuk,”ujar pak suami memberikan ide lain. “Boleh juga,” aku menyambut senang. Namun ternyata untuk bisa pergi dan menginap di Puncak, kami harus mengikuti rapid test terlebih dahulu dan untuk biaya rapid test kami bertiga saja sudah memakan biaya yang lumayan, belum lagi biaya transport dan menginap di sana, alhasil kami memutuskan untuk staycation di salah satu hotel saja di Jakarta.

Pak suami memberikan ide agar aku mencari hotel yang tidak jauh dari pusat perbelanjaan, agar nanti kami sekalian bisa berbelanja di sana. Tentunya hal ini beralasan, dikarenakan akhir tahun banyak sekali barang-barang yang dijual diskon hingga 75%. Wajar kami memilih untuk mengunjungi pusat perbelanjaan, dikarenakan selama masa pandemi covid 19 ini, kami memang hampir tidak pernah mengunjungi pusat keramaian saat di Jakarta. Hal ini dikarenakan kami cukup waspada dan berusaha menghindari penularan covid 19. Namun, di akhir tahun 2020, kami rasa sudah cukup aman pergi sebentar ke pusat keramaian, dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Kami pun berencana untuk mengunjungi pusat perbelanjaan Mall Atrium Senen yang berada di Jakarta Pusat. Oleh karenanya, kami akan mencari hotel yang nyaman di sekitaran mall atrium. Pilihan kami pun jatuh pada Lumire Hotel yang lokasinya bersebalahan langsung dengan Mall Atrium Senen. Setelah memesan hotel dengan menggunakan aplikasi traveloka pada tanggal 25 Desember 2020, kami pun berencana untuk menginap (staycation) di hotel Lumire Jakarta Pusat pada tanggal 28 Desember 2020.

Senin, 28 Desember 2020

Tibalah hari H untuk kami pergi staycation  ke Lumire Hotel. Sekitar jam 14.00 kami (aku, pak suami dan Ayya) berangkat menggunakan gocar menuju Hotel Lumire. Setiba di sana, kami disambut oleh security.

“Maaf Bu sebelumnya, Ibu berencana menginap di hotel kami ya? Sebelumnya apakah Ibu sudah melakukan pembayaran?,” ucap security tersebut.

“Iya sudah, saya tinggal check in Mbak,” ujarku sembari membawa koper kecil.

“Maaf Bu sebelumnya, peraturan di Hotel Lumire, tidak boleh membawa tamu menginap di usia balita selama masa pandemi ini. Tetapi silahkan Ibu melapor saja terlebih dahulu kepada resepsionist di dalam, siapa tahu ada kelonggaran,” ujar Mbak security ramah.

“Oh baik kalau begitu, biar suami saya saja yang konfirmasi ke dalam.”

Pak suami pun melakukan konfirmasi di dalam. Aku berharap semoga bisa kami menginap di sini, karena lokasinya cukup strategis, di mana bersebelahan langsung dengan Mall Atrium Senen. Apalagi kawasan Senen Jakarta Pusat saat ini baru-baru saja dipercantik oleh pemerintah provinsi, sehingga banyak sekali spot-spot instagramable di sekitaran sini. Sekitar 5 menit pak suami keluar dari dalam lobby hotel. Ternyata aku diminta untuk masuk ke dalam lobby untuk mengonfirmasi kembali ke pihak resepsionis, dikarenakan pemesanan hotel di traveloka atas namaku.

Setibanya di dalam lobby, resepsionist tetap menjelaskan hal yang sama bahwa tidak boleh menginap di hotel ini dengan membawa balita, hal ini memang sudah kebijakan dari pimpinan selama masa pandemi. Aku agak kecewa, namun mau apalagi, karena memang sudah aturannya dan ternyata memang di traveloka telah terdapat warning bahwa hotel ini memiliki kebijakan tidak menerima balita sebagai tamu, namun aku kurang teliti membaca aturan saat memesan tiket hotel. Untungnya saja pihak hotel mau membantuku untuk melakukan refund (pengembalian dana) ke pihak traveloka. Semoga saja suatu saat nanti, kami sekeluarga bisa staycation di hotel ini.

Aku pun keluar hotel sambil menghampiri Ayya yang sednag bermain bersama pak suami di depan hotel. “Tetap nggak bisa Abi, nggak nasib kita nginap di hotel ini,” ujarku.

“Yasudah kalau begitu kita pulang saja,” ujar Pak Suami.

“Yah kok pulang? Kita cari hotel lain saja yuk? Siapa tahu ada yang mau menerima tamu balita Abi,” ujarku masih optimis.

“Yasudah kalau begitu, cobalah cari,” ujar Abi Ayya sambil kembali menemani Ayya naik turun tangga yang ada di depan hotel Lumire.

Sebenarnya menginap di hotel Lumire ini adalah usulan Pak Suami pada awalnya karena bisa sekalian berkunjung ke Mall Atrium yang berada langsung di samping hotel. Aku sendiri sebenarnya ingin staycation di Yello Hotel Harmoni, karena melihat Yello Hotel adalah salah satu hotel yang instagramable di Jakarta dan merupakan hotel bintang 3 yang mewah, bahkan berdasarkan review dari tripadvisor.co.id hotel ini serasa hotel bintang 5 dan tergolong hotel baru karena baru saja berdiri pada tahun 2016.

Aku pun mencoba untuk menelepon Yello Hotel Harmoni yang beralamat di Jalan Hayam Wuruk No.6 Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat. Aku menanyakan pada pihak hotel apakah hotel ini menerima tamu balita berusia 2 tahun atau tidak. Dan ternyata hotel ini menerima balita sebagai tamu hotel. Kemudian aku menanyakan kembali, apakah masih tersedia kamar untuk kami staycation  hari ini di sana? Syukurnya jawabannya adalah ya. Aku bertanya kembali, apakah masih tersedia untuk highfloor room? Dan ternyata masih tersisa 1 kamar, tetapi untuk bednya hanya tersedia 2 single bed. Sebenarnya aku agak kecewa dengan jawaban call center ini terkait bed, tetapi tak apalah tih nanti bednya bisa disatukan. Akhirnya aku iyakan saja untuk membooking kamar tersebut dan nantinya pembayaran akan dilakukan secara langsung di resepsionist saat kami tiba.

Yello Hotel Harmoni 
Sumber Traveloka.com


Kami pun bertolak dari hotel Lumire menuju ke Yello Hotel Harmoni dengan menaiki Gocar. Sekitar 15 menit perjalanan kami, karena jalanan Jakarta sore hari itu tidak begitu ramai kendaraan sehingga tidak menimbulkan macet. Tiba di hotel Yello, kami pun disambut security, sebelumnya kami ditanya kembali apakah sudah check in? Kami menjawab belum, kami hanya baru melakukan booking, kami pun dipersilahkan masuk, dengan sebelumnya mencuci tangan kami menggunakan handsanitizer yang disediakan pihak hotel.

Kami pun menuju ke lobi hotel yang berada di lantai 5 dengan menggunakan lift. Saat menaiki lift, desain ruangan di dalam lift didominasi dengan warna kuning. Sangat artistik menurutku desain liftnya, karena biasanya ruangan lift hanya didominasi warna abu-abu saja, namun hotel ini memiliki tampilan yang berbeda.

Setibanya di lantai 5 aku menuju resepsionist untuk melakukan check in. Desain di lobi hotel ini juga sangat menarik, ada beberapa kursi yang disediakan untuk tamu menunggu, ada juga meja yang diletakkan di depan kursi tunggu dan lagi-lagi desainnya amat menarik dan kekinian.

Ruang Tunggu Di Lobbi Hotel

Lobbi Hotel di Lantai 5

Setelah berhasil melakukan check in, aku diberikan kunci kamar 2616 dan dipersilahkan untuk menuju kamar melalui lift yang tersedia di samping kanan resepsionist. Kami bertiga pun naik ke lantai 26. Saat keluar dari lift, kami disuguhi lukisan abstrak yang cantik. Saat menuju ke lorong kamar, juga ada beberapa gambar astistik yang tak kalah menarik.

Tibalah kami di dalam kamar. Kamar ini didominasi dengan warna putih, abu dan juga kuning. Tergolong kamar yang minimalis, tetapi artistik, dengan latar tembok dihiasi dengan lukisan besar yang menggambarkan kawasan sekitar Yello Hotel Harmoni dengan view Monas. Nah, beruntung sekali kami mendapatkan kamar yang memiliki view langsung Monas.

View latar Kamar Tidur

Kamar ini memiliki fasilitas seperti kamar hotel kebanyakan yakni memiliki AC, 32 LCD TV, International and local Tv channels, Sofa, brankas, mini kulkas, tempat tidur, bantal, selimut, toilet (hot water, shower dan  toiletress, tea and coffee maker, 2 botol air mineral berukuran sedang, 2 cup gelas keramik, serta meja dan satu bangku yang menghadap ke kaca luar dengan view kawasan Harmoni Jakarta Pusat serta Monas.

Menurutku beragam fasilitas ini cukup mewah, karena dengan hanya membayar Rp 500.000,- kami sudah bisa menikmati fasilitas dan view yang menarik dari atas kamar dan juga bisa menikmati free breakfast keesokan harinya. Walaupun ada juga sedikit kekurangan, karena kamar hotel ini tidak kedap suara, sehingga suara-suara orang yang sedang mengobrol di kamar sebelah, sedikit banyak terdengar oleh kami. Mungkin saja untuk tipe kamar yang superior, ruangan kamarnya kedap suara.

 

Menikmati Sore dan Malam di kawasan Jakarta Pusat

Akhirnya kami bisa menikmati kawasan di sekitaran Jakarta Pusat, karena selama ini kami hanya berhari-hari stay di kawasan Jakarta Barat. Kami berencana untuk menikmati sore di dalam kamar hotel saja, sebelum akhirnya pada saat usai maghrib kami berencana untuk keluar hotel menuju Mall Atrium Senen untuk berbelanja. Sekitar pukul tujuh lewat kami tiba di Mall Atrium, kami pun berbelanja beberapa keperluan. Namun sayang, ketika akan pulang ke hotel kami tak sempat membeli makanan untuk dimakan di hotel karena gerai makanan sudah tutup lebih awal dikarenakan pandemi. Alhasil, aku hanya membeli snack kerupuk kentang dan juga minuman. Kami kembali ke hotel dengan menggunakan Gocar dan bermaksud memesan makanan melalui go food saja untuk makan malam. Namun lagi-lagi ternyata sudah banyak tempat makanan yang tutup di sekitaran hotel, padahal ada beberapa resto halal menarik yang ada di sekitaran Yello Hotel, seperti restoran Padang Sederhana, restoran Padang Merdeka, Resto Pondok Sedap Malam dan Resto Pondok Laguna yang terkenal akan masakan seafoodnya, Soto Sedaap Boyolali Hj.Widodo dan masih banyak lagi (aku di Jakarta sini cukup selektif memilih resto atau tempat makan, karena khawatir tidak halal). Namun keseluruhan dari resto yang kusebut tadi sudah tutup di jam 9 malam, dikarenakan peraturan pemerintah untuk mencegah penyebaran covid19. Akhirnya aku mencari-cari review makanan yang enak di sekitaran hotel yang masih buka lewat dari jam 9 malam. Dan akhirnya pilihan jatuh pada nasi goreng kambing Kebon Sirih Jakarta Pusat.Karena menurutku nasi goreng ini cukup viral, maka aku pun memesan dua porsi nasi goreng kambing, yang aku satu porsi dan pak suami setengah porsi (kok malah aku yang full ya, hehe).

Sekitar setengah jam nasi goreng pun tiba, kami pun makan malam dengan menu nasi goreng kambing yang menurutku cukup enak. Untuk rasa nasi goreng, sepertinya bumbunya ditambahkan bumbu kambing kemasan yang sering dijual di pasaran, hanya saja kelebihannya banyak sekali potongan daging kambingnya dan juga ukurandagingnya tebal-tebal. Selain itu juga nasi goreng ini dilengkapi dengan acar dan juga emping melinjo. Usai makan malam, aku pun menyempatkan diri untuk selfie sebentar dengan view monas yang tiangnya berwarna pink di malam hari. Usai selfie dan sejenak memandang kota Jakarta dari lantai 26 Yello Hotel aku pun bersih-bersih dan bersiap untuk beristirahat.



Selfie dari dalam kamar dengan view Monas






Pagi Hari di Yello Hotel Harmoni

Saat pagi hari, setelah mandi dan bersiap-siap kami menuju wok n tok (resto Yello Hotel Harmoni) yang berada di lantai 5. Setelah melapor pada petugas resto, kami pun dipersilahkan untuk masuk dan makan menu breakfast  yang tersedia hingga jam 10.00 wib. Untuk pengambilan menu ada beberapa venue yang dibolehkan mengambil sendiri, tetapi ada juga yang diambilkan. Selain itu, untuk mengambil makanan, kami dipersilahkan untuk menggunakan sarung tangan plastik, hal ini merupakan kebijakan dari pihak Yello Hotel selama masa pandemi. Tentunya meja tempat kami makan pun didesain sedemikian rupa agar tidak berdekatan dengan tamu lain.

Untuk suasana resto Wok n Top sendiri sangat artistik, tidak seperti resto kebanyakan, ada meja makan yang didesain seperti sangkar burung, tidak hanya itu lampu-lampu hias yang ada di langit-langit resto juga didesain apik sehingga tampak mewah. Suasana yang amat nyaman untuk bersantai di pagi hari.

Suasana di dalam Wok n Top Yellohotel Harmoni


Menu sarapan yang ditawarkan juga beragam, ada Asian food, Western Food, hingga traditional food. Aku sendiri memilih untuk mencicipi menu bakso kuah. Nah untuk menu ini, kami diambilkan oleh petugas resto, ada dua pilihan kuah, yakni kuah kaldu dan kuah taichan. Tentunya aku memilih kuah kaldu, karena takut akan kepedasan jika mencoba kuah taichan. Untuk porsi baksonya menurutku terlalu sedikit, dikarenakan biasanya makan bakso versi full dan kenyang, hehe, nah ini aku hanya disuguhi 3 bakso kecil (ada yang sapi dan dua bakso seafood), sedikit mie, dua sawi, bawang goreng dan sambal. Tapi cukuplah untuk ukuran sarapan dan ternyata rasa baksonya enak sekali.

Untuk pak suami sendiri, beliau request sarapan nasi. Aku pun mengambil nasi goreng yang kucampur dengan nasi putih, kemudian ayam fillet saos, tahu krispi, rendang dan juga tumisan sayur. Sementara untuk Ayya aku mengambil 1 pastry, 1 roti manis dan 1 donat coklat. Kami juga mengambil beberapa buah potong yang tersedia. Untuk minuman kami mencoba jus apel dan jus nanas. Usai menghabiskan menu sarapan, pak suami mengajak Ayya main ke wok n tok outdoor yang berada di samping resto, nah dari tempat outdoor ini dapat terlihat suasana sekitaran hotel dari lantai 5 hotel. Oh iya, hotel ini juga menyatu dengan hotel Haris Vertue dan Mall Harmoni Exchange sehingga semakin menambah kemewahan view ketika memasuki hotel.

Sebelum aku ikut juga ke bagian outdoor resto, aku ingin mencicipi menu yang lain. Pilihanku jatuh kepada menu western, di mana aku mencoba untuk mengambil daging bacon, sosis, beserta sausnya. Sebelumnya aku ragu daging bacon ini apakah halal dimakan atau tidak, tetapi setelah searching terlebih dahulu aku yakin bahwa daging bacon ini halal, karena terbuat dari daging sapi, walaupun pada awal mulanya daging bacon  memang terbuat dari daging babi. Dan ternyata menu ini amat enak, apalagi ada saos kacang merahnya, daging bacon juga memiliki rasa yang khas dan menggugah selera. Setelah merasa cukup, aku rasa-rasanya ingin mengambil dessert, yakni seperti salad buah atau yang lainnya. Tetapi rasa-rasanya perutku sudah cukup kenyang.

Aku pun menuju ke kawasan outdoor, ternyata di suasana outdoor terlihat ada kolam renang dari hotel Haris yang tepat berada di sebelah hotel Yello, kemudian ada beberapa tempat duduk untuk menikmati sarapan. Namun pagi itu angin cukup kencang, sehingga kami bertiga pun segera masuk ke dalam hotel.

Usai sarapan kami berencana untuk memasuki kawasan game station yang ada di lantai 7. Tapi setelah mencoba beberapa kali untuk naik ke lantai 7 melalui lift, kami tidak berhasil. Ternyata setelah hal ini dikonfirmasi ke resepsionist, lantai 7 memang di lock sementara semasa pandemi. Tentunya aku kecewa mendengar kabar ini, padahal lantai 7 YelloHotel Harmoni inilah yang menjadi incaranku, karena terdapat area bermain anak dan banyak sekali spot-spot menarik yang instagramable. Akhirnya kami memutuskan untuk mengitari kawasan luar hotel sebelum akhirnya check out pada jam 11.30 WIB.

Untuk lain waktu,aku ingin rasanya menginap di Yello Hotel Harmoni lagi, tetapi mencoba room yang family suite di lantai teratas YelloHotel Harmoni dan tentunya tetap memilih view Monas. Dan tentunya aku berharap agar pandemi segera usai, sehingga aku dan keluarga bisa menikmati fasilitas yang ada di lantai 7 Yello Hotel Harmoni.