Top Social

Bersepeda ke Kawasan Sudirman Jakarta

Kamis, 16 September 2021

             Bersepeda sudah menjadi trend baru di masa pandemi. Adanya slogan ‘jaga imun dan iman’ menjadikan trend olah raga sepeda menjadi digandrungi. Bersepeda dipercaya dapat menjadikan imun kita menjadi meningkat. Selain bisa  menyehatkan fisik, bersepeda bersama dapat membuat kita menjadi bahagia.

 

Bersepeda, Salah Satu Olahraga yang Tepat Menjadi Pilihan.

            Banyak teman-temanku yang bertanya, “Memangnya kamu kuat bersepeda? Kamu kan pernah patah tulang kaki?.” Ya sebenarnya aku sendiri tadinya ragu untuk bersepeda, tetapi semenjak aku kontrol kesehatan tulangku di dokter Orthopedi pascalebaran tahun ini, justru aku wajib rajin olahraga sepeda untuk menjaga kesehatan tulang. Ibaratnya kata Dokter, kaki harus sering digerakkan agar tidak kaku, tapi jangan berolahraga dengan membebankan bobot tubuh pada kaki. Kalau memilih olahraga jalan santai, justru itu salah, dikarenakan beban tubuh terpaku di bagian kaki, sementara kaki yang pernah mengalami patah tulang sudah tak kuat lagi seperti sedia kala. Maka olahraga yang tepat adalah dengan rajin bersepeda. Jika tulang kaki dibiarkan saja, jarang digerakkan, maka akan kaku dan menyebabkan sakit. Bisa jadi kaki tak bisa jalan kembali dikarenakan adanya aus pada tulang rawan yang disebabkan salah satunya adalah adanya cidera tulang atau cidera sendi (osteoarthritis).


Baca juga  Staycation di YelloHotel Harmony, Jakarta


Bersepeda Bukan Hanya Sekedar Mengikuti Trend

            Niat bersepeda tentunya bukanlah sekedar mengikuti trend, lebih kepada ingin menjaga kesehatan. Jika niat kita hanya mengikuti trend, maka kita akan malas berolah raga sepeda, hanya sekedar ikut-ikutan saja, usai trend, ya sudah, usailah semangat kita.

            Tentunya pemilihan sepeda yang nyaman dapat menjadikan olahraga bersepeda kita menjadi nyaman juga. Pilihlah sepeda sesuai dengan budget yang kita miliki. Pilih juga merk yang sudah teruji kualitasnya, selain itu track record perusahaan tempat sepeda tersebut diproduksi juga harus diperhatikan. Hal ini untuk mencegah kita dari banyaknya oknum yang seringkali menjual sepeda tidak original ataupun menjual sepeda dengan cara tak jujur. Alangkah baiknya juga membeli sepeda di tempat yang memiliki garansi resmi, sehingga jika terjadi kerusakan atau permasalahan terkait sepeda dapat segera melakukan komplain.

            Oh ya, aku membeli sepeda lipat tipe Nigma merk United. Hal ini didasari karena perusahaan United merupakan perusahaan produsen lokal yang sudah melakukan ekspor sepeda ke luar negeri. Selain itu, merk united juga sudah tidak diragukan lagi di kalangan pecinta sepeda. Kenyamanan sepeda sangat terasa saat dipakai, selain itu, mode desain sepeda yang dikeluarkan united sangatlah modis dan berkarakter, kekinian bangetlah pokoknya.

Berfoto di Depan Davinci PentHouse Kawasan Sudirman


            Sepeda lipat nigma united tersebut aku beli di distributor resmi united di Toko Sepeda 3 Saudara Kedoya, Jakarta Barat. Pilihanku jatuh pada toko ini, dikarenakan pemilik Toko Sepeda tersebut amat ramah saat ditanya seputar sepeda. Di toko ini menjual beragam jenis merk sepeda, seperti genio, pacific, revel, united dan masih banyak lagi. Koh YungYung selaku pemilik toko sepeda sangat ramah menjelaskan tentang kekurangan dan kelebihan sepeda berbagai merk yang ia jual, sehingga saya jatuh hati pada sepeda united nigma goldblack. Nah untuk kalian yang mau beli sepeda, saya sangat merekomendasikan toko ini ya. Bisa dilihat alamatnya di googlemap loh.

 

Bersepeda Santai Bersama Teman di Minggu Pagi

            Pada hari Minggu lalu, tanggal 9 September 2021 aku bersama teman-temanku (Mbk Whidya dan Mbak Fatimah) pergi bersepeda santai ke arah Sudirman, Jakarta Pusat. Kami start dari rumah sekitar jam tujuh pagi. Kami bertolak dari Palmerah, Jakarta Barat menuju ke arah Bendungan Ilir melalui arah Petamburan, kemudian belok ke arah kanan. Tiba di Bendungan Ilir, kami mampir sebentar di Bopet Mini (RM. PADANG). Di sana sudah mengantri beberapa orang membeli sarapan pagi. Bopet Mini terletak di samping RM. Padang SEDERHANA, tetapi antrian Bopet Mini terlihat lebih panjang dan ramai dibandingkan RM. Padang Sederhana.

Sepeda berposebersama Patung Jend.Soedirman
di Kawasan Sudirman, Jakpus


            Di RM Bopet Mini tersedia beragam menu sarapan pagi, seperti lupis Padang, bubur kampiun, lontong sayur, sala lauk, sate Padang dan masih banyak lagi yang lainnya. Aku memesan lupis Padang dan Bubur Kampiun saja,sementara dua orang temanku juga memesan menu yang sama ditambah lontong Padang. Mereka berdua membawa tas tambahan untuk meletakkan makanan. Sementara aku hanya membawa tas HP kecil saja, alhasil, lupis dan bubur kampiun yang aku pesan digantung di sepeda menggunakan plastik. Walau terlihat kurang keren, tapi yasudahlah, haha (Lain kali, jika ingin bersepeda agar membawa tas tambahan ya, baik ransel atau pun tas lainnya, kali-kali mau memberli jajanan saat bersepeda, wkwk).

 

Ramainya RM.Bopet Mini Bendungan Ilir;
sudah beroperasi sejak tahun 1982 dan tidak buka cabang

Tiba di Jalan Sudirman

            Kawasan Sudirman merupakan kawasan pusat bisnis di Jakarta (SCBD). Pada hari Minggu sebelum PPKM tiba, kawasan ini digunakan sebagai sarana tempat berolahraga (car free day).

Wefie di depan Davinci PentHouse Sudirman
Tengah (Mbk Whidya), Kanan (Mbak Fatimah), aku (paling kicik, hehe)


            Sejak PPKM diturunkan levelnya, kawasan ini sudah bisa digunakan kembali sebagai kawasan olahraga santai. Banyak sekali pemandangan-pemandangan menarik di kawasan ini. Terkesan mewah dan artistik kawasan Sudirman, terlebih udara masih segar jika berolah raga di sekitaran kawasan ini di pagi hari. Ada beragam bunga hias ditanam,menabah kecantikan kawasan Sudirman, ada juga beberapa bangunan unik yang membuat kawasan ini tambah menarik.

Tanaman Unik di Kawasan Sudirman
Buahnya Menempel di Batang Pohon dan Berwarna Cantik


            Banyak spot foto menarik di kawasan ini. Bukan hanya kami bertiga yang berfoto dan bersepeda, tetapi masih banyak juga yang lainnya. Ada juga yang jogging dan jalan santai. Bagi kalian yang mengunjungi Jakarta di suatu waktu nanti, jangan lupa untuk berolahraga pagi di kawasan ini ya! Very recommended.

Salah satu gedung di Kawasan Sudirman


 

Trip Kembali Menuju Ke Rumah

            Usai dari Sudirman, kami melewati area Thamrin City dekat Bundaran HI, kemudian menyusuri Kantor Pajak Tanah Abang dan menuju kawasan Slipi. Kemudian kami kembali ke Kemanggisan dan menuju ke rumah di Jalan Palmerah. Jika ditotal, kami bersepeda hari Minggu lalu sekitar 3 jam. 

Paling recommended
Bubur Kampiun Bopet Mini Benhil (Bendungan Ilir)


    Saat pulang, aku mencicipi bubur kampiun dan lupis Padang Bopet Mini, hmmm rasanya yummy, apalagi bubur kampiunnya, very recommended!. Buat teman-teman sekalian, jangan lupa olahraga ya dan jangan lupa bahagia. Semangat!

 

 

 

 

Kenangan Akan Lebong

Rabu, 08 September 2021

Lebong, mengingatkanku akan hamparan sawah nan hijau. 

Lebong ,mengingatkanku akan bukit-bukit berbaris di setiap sudutnya. 

Lebong, mengingatkanku akan sejuknya udara di sekitaran sungai.

Lebong, tempatku berkisah, empat tahun yang lalu.


Halo semua... apa kabar? Bagaimana kabar kalian? Semoga tetap bersemangat ya.. Nah, untuk menambah semangat dalam rutinitas kita semua, tak ada salahnya kita rehat sejenak, sambil aku ajak jalan-jalan melihat beberapa keindahan kabupaten Lebong yang ada di Provinsi Bengkulu. Siapa yang sudah pernah ke sana? Wah,,, kalau ingat Lebong, kalian paling ingat apa? Kalau aku jujur saja sih, aku ingat Lebong, ingat sebuah desa yang nyaman dengan bentangan sawah yang begitu menghijau di sisi-sisi jalan rayanya.

                Ya, memang benar, Lebong merupakan salah satu kabupaten yang memiliki lumbung padi terbesar di Provinsi Bengkulu. Jika kalian berkunjung ke daerah ini sekitar bulan Maret, nah kalian akan dimanjakan dengan hamparan padi yang amat hijau yang terbentang hampir di seluruh bagian kabupaten ini. Sungguh memanjakan mata tentunya, pemandangan yang amat jarang kita temukan di perkotaan.

 Takdir membawaku ke daerah Lebong.

                Siapa sangka, takdir membawaku ke daerah ini, daerah yang sama sekali belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Saat itu (tahun 2017), SK mengajarku di Universitas Terbuka (UT) Bengkulu, menempatkan namaku untuk menjadi tutor di daerah Lebong (salah satu kabupaten di Provinsi Bengkulu). Tentu saja aku agak sedikit kaget, karena jujur saja aku belum pernah ke sana.

                Awalnya aku mengira, kawasan Lebong adalah kawasan yang amat dingin, sehingga persiapan menginap di Lebong cukup aku persiapkan selengkap mungkin. Hal yang paling tidak mau aku tinggalkan adalah membawa jaket tebal serta balsem vicks (obat andalan selain decolgen, karena aku alergi dingin, hee. Karena alergi dingin, aku bisa saja terkena flu akut dan bisa meriang kalau udara dingin. Kalau sudah begitu, tentu aku tidak bisa mengajar dengan baik keesokan harinya (hari Sabtu dan Minggu).  Namun, ternyata aku salah mengira, karena udara di daerah Lebong, khususnya di kecamatan Amen dan Lebong Atas tempatku bertugas tidaklah dingin. Suhunya cukup bersahabat dengan kondisi fisikku (alhamdulillah).

                Berdasarkan SK yang tertera di UT, maka setiap pengajar Universitas Terbuka wajib mengadakan pertemuan tatap muka mengajar selama 8 kali pertemuan berturut-turut selama 8 minggu.  Oleh karenanya aku harus bolak balik Kota Bengkulu – Lebong selama dua bulan tentunya (tetapi hanya dua kali seminggu, total 8 hari mengajar) di setiap weekend-nya. Karena ini adalah pengalaman mengajarku yang paling jauh, maka aku mencoba untuk memberanikan diri saja mengatakan ‘ya’ saat mendapatkan tawaran kerja di Lebong oleh pihak UT. Awalnya memang aku mengajukan diri sebagai pengajar UT, tetapi saat pembagian mata kuliah, aku belum dipanggil. Saat aku konfirmasi kepihak UT langsung di kampusnya, aku langsung diminta mengajar di Lebong, jika aku bersedia, maka aku akan langsung dibuatkan SK saat itu juga.

          Jujur aku agak terkejut saat itu, tapi daripada aku tak dapat kursi untuk mengajar UT, ya sudahlah aku terima saja keputusan UT untuk bertugas di Lebong. Bismillah, tanpa pamit terlebih dahulu pada orang tua (karena waktu itu belum menikah), aku meyakinkan diri untuk pergi bertugas keLebong keesokan harinya. Alhamdulillah, saat sudah mendapatkan SK, aku kembali ke rumah dan berpamitan pada orang tua dan syukurnya kedua orang tuaku mendukung penuh. Malah aku akan diantar ke sana keesokan harinya.

 

Perjalanan Awal Menuju Lebong

                Pada saat awal mengunjungi Lebong, aku diantar oleh keluargaku, kami melewati jalur Bengkulu Utara dari Kota Bengkulu. Jarak tempuh yang kami lewati adalah sekitar 4 jam perjalanan darat. Sebenarnya, jika ingin ke Lebong bisa ditempuh melewati jalur Bengkulu-Curup (Rejang Lebong)-kemudian berakhir di Lebong, namun perjalanan akan lebih lama, sehingga kami memilih melewati jalan lintas Argamakmur (kabupaten Bengkulu Utara). Perjalanan cukup lancar, namun agak sedikit terkendala dengan jalanan yang berbatu di kawasan perbatasan Argamakmur-Lebong, tepatnya di daerah Bukit Resam.

                Kami tiba di Lebong sekitar pukul 12.00 WIB, saat itu aku berencana akan menginap di salah satu rumah rekanku sesama pengajar UT di Lebong. Tempat tinggalku saat itu adalah di Dusun Muara Aman, Kecamatan Amen. Kawasan ini adalah kawasan yang dekat dengan pusat pemerintahan Kabupaten Lebong dan juga dekat dengan pusat perekonomian masyarakat Lebong (pasar Muara Aman).

                Selepas beristirahat sejenak, aku pun bergegas ke lokasi mengajar di SMAN 1 Lebong Atas. Walaupun lokasi mengajarnya di SMA, tetapi yang aku ajar adalah para mahasiswa UT. Jam belajarnya pun dimulai seusai jam SMA usai. Untuk SMA tempatku mengajar cukup rapi dan bersih, ditambah lagi ada hal yang unik, di mana sekolah tersebut berbatasan langsung dengan hamparan sawah yang amat luas. Beruntung sekali aku saat itu, karena saat aku mengajar padi sedang hijau-hijaunya di samping dan depan kelas. Sungguh memanjakan mata.

Suasana Di Depan Kelas saat Mengajar.
Hamparan sawah nan luas dan kawasanBukit yang Indah.
Photo by Me
               

Tak Sekedar Mengajar

                Tentunya kehadiranku di Lebong tidak serta merta aku gunakan untuk mengajar saja. Kebetulan, pada saat mengajar UT di Lebong, temanku yang sedang berkuliah di Yogya kebetulan baru saja diwisuda dan sedang berlibur di rumahnya di Lebong.

          Wah, tentunya ini kesempatan bagiku. Aku meminta tolong kepadanya untuk menemaniku berjalan-jalan selama aku berada di Lebong. Karena memang kami sudah akrab sejak lama,  maka perjalananku selama di Lebong tambah mengasyikkan. Dengan menggunakan sepeda motor, kami pun berkeliling kabupaten Lebong, mengunjungi beberapa objek wisata yang ada di sana. 

                Berikut adalah beberapa objek wisata yang sempat aku kunjungi ketika berada di Lebong.

 1.       Masjid Agung Sultan Abdullah.


Sumber Foto 
kaskus.co.id



Aku Berfoto di Depan Masjid Agung Sultan Abdullah

Taken by My Friend


          Berada di jalan lintas Argamakmur dan Lebong, masjid ini memiliki bangunan yang megah dan indah. Selain itu, masjid ini juga dikelilingi oleh pemandangan bukit barisan yang mengelilingi kabupan Lebong. Letaknya juga tepat berada di sebelah kantor DPRD Kabupaten Lebong.


2. Danau Picung.

          Lokasi danau Picung tidak jauh dari lokasi Masjid Agung Sultan Abdullah, namun lokasinya tidak berada langsung di pinggir jalan raya lintas Argamakmur-Lebong, namun agak masuk gang sedikit ke dalam atau bisa dibilang berada tidak jauh di belakang Masjid AGUNG Sultan Abdullah. Danau Picung merupakan danau buatan yang telah ada sejak zaman penjajahan Kolonial Belanda. Danau buatan ini dibuat sebagai sumber air untuk memutar kincir pengolahan emas di tambang emas di daerah Lebong Tambang.

Danau Picung di Pagi Hari
Sumber Gambar Kaskus.co.id

          Danau Picung menyimpan banyak sejarah tentang daerah Lebong yang memiliki banyak kekayaan alam terutama emas. Pada masa revolusi, wilayah ini berkontribusi dalam pembangunan Monumen Nasional (Monas) di DKI Jakarta. Pada puncak Monas terdapat emas, menurut sejarah sebagian emas tersebut berasal dari daerah Lebong (sumberlebongkab.go.id).

Kawasan Danau Picung
sumber gambar wisato.id


          Ketika tiba di danau ini, maka kita akan dimanjakan oleh pemandangan danau nan alami. Danau yang berukuran cukup luas ini memliki pesona yang amat indah, selain dapat digunakan sebagai wisata keluarga, danau ini juga dapat dijadikan lokasi outbond oleh para pengunjung.

          Saat kami (aku dan temanku) berada di danau Picung, kami duduk di bawah pohon sambil menikmati jeruk Lebong yang dibawa oleh temanku. Daerah Lebong juga terkenal sebagai penghasil jeruk yang khas. Jeruk Lebong memiliki rasa yang segar dengan bulir jeruk yang cukup besar. Ukuran buah jeruknya juga sedikit besar dibandingkan dengan jeruk medan.


3.    Wisata Air Putih Lebong.

Nah, bagi yang sudah berkunjung ke Lebong, belum lengkap rasanya kalau belum mengunjungi wisata Air Putih. Sebenarnya apa sih wisata Air Putih ini?? Nah, wisata air putih merupakan wisata air sungai yang memiliki air yang amat jernih. Selain itu, di beberapa titik terdapat air panas alami, yang menyatu dengan air dingin nan jernih. Sungguh merupakan kuasa Tuhan ya, walaupun berbatasan langsung, namun kondisi air tetap stabil. Di mana titik tempat air panas tetaplah panas mendidih, sementara tepat disamping aliran sungai mendidih terdapat titik air dingin yang berada agak di tengah sungai.

jernihnya air sungai Air Putih
sumber gambar http://daftar-info-wisata.blogspot.com/


          Jika berkunjung ke sini, janga lupa membawa telur mentah untuk direbus ya!, karena kalian akan merasakan sensasi merebus telur secara alami di dalam sungai. Selain itu, kita juga menikmati dinginnya air jernih sungai Air Putih yang alami. Pemandangan hijau di sekitar sungai pun menambah cantiknya pemandangan.

 

4.   Danau Tes Lebong.

Danau Tes merupakan kawasan danau yang tidak kalah indahnya. Jika beruntung, maka akan ada fasilias perahu yang dapat digunakan pengunjung wisata untuk berkeliling sekitaran danau. Namun sayangnya, saat aku berkunjung ke sana, perahu tersebut sedang tidak dioperasikan. Kawasan danau tes yang masih alami, sangat baik digunakan sebagai tempat kumpul bersama sahabat dan keluarga. Apalagi jika ditambah dengan bekal piknik yang dibawa bersama. Bisa dibayangkan kan, makan bersama di pinggir danau sambil bercanda ria. 

Pemandangan asri Danau Tes Lebong
Sumber Gambar lebongkab.go.id

          Saat mengunjungi danau Tes, aku ditemani dengan mahasiswa-mahasiswaku di UT Lebong. Sebagai perpisahan karena sudah pertemuan terakhir, maka aku mengajak mereka makan siang bersama di pinggir danau. Tentunya sangat seru sekali waktu itu, karena kami makan siang bersama dengan pemandangan danau yang luas. Udara di sekitar danau pun sejuk, karena banyak sekali pohon rimbun. Wangi udara dedaunan berbaur dengan bau tanah yang agak basah, membuat selera makan menjadi meningkat. Belum lagi udara di sekitar danau yang amat segar, menambah suasana keakraban antara aku dan mahasiswa ilmu komunikasi UT Lebong.

 

Nah, itulah beberapa objek wisata yang sempat aku kunjungi saat bertugas di Lebong. Kabupaten yang terkenal dengan salah satu tempat penghasil emas di Provinsi Bengkulu ini patut dijadikan destinasi wisata kalian loh! Sebenarnya masih banyak lagi destinasi wisata di Kabupaten ini, dua di antaanya adalah Goa Kaca Mata dan rafting di Sungai Arus Ketahun.

 


Pantai Mutiara Buton Tengah

Kamis, 02 September 2021

 

            Pantai, memiliki kenangan tersendiri dalam ingatan jika mengingatnya. Pantai, membawa aroma tersendiri bagiku yang memang hidup berpuluh tahun berdampingan dengannya. Pantai, membawa nuansa ketenangan jika aku memandangnya.


Pemandangan Di Pantai Mutiara Buton, Sulawesi Tenggara
Photo taken By Me


 Impian Akan Buton

            Saat aku masih kuliah dulu, aku memiliki seorang kolega sesama mahasiswa yang berasal dari daerah Buton, namanya kak Andi. Aku pun penasaran, seperti apa sih daerah Buton itu? Kok kayaknya jauh gitu ya dari Yogya? Pengen deh sesekali berkunjung juga ke tanah Sulawesi.

            Dulu saat masih kuliah di Yogya, saat liburan semesteran, kami semua masing-masing pulang ke rumah orang tua, aku ke Bengkulu, sementara kak Andi pulang ke Buton, begitu pun teman-temanku yang lainnya. Saat pulang ke rumah orang tua, aktivitasku tak banyak, hanya membantu pekerjaan rumah mamaku dan terkadang aku ke Pantai Panjang (salah satu pantai di Kota Bengkulu) untuk mengobati rasa kangen akan suasana pantai. Kemudian aktivitas liburanku ya kebanyakan di rumah,  begitu-begitu saja, bangun pagi, beres-beres, bantu masak lalu cuci piring. Repeat… repeat… , sampai nanti akhirnya harus kembali ke Yogya untuk kuliah lagi.

          Aktivitas liburan yang cukup monoton, membuatku mengisi liburan dengan seringkali main sosial media facebook melalui gawai. Melalui FB aku melihat-lihat suasana liburan teman-temanku yang lain di beberapa wilayah Indonesia. Ada yang pulang ke Riau, Lamongan, Kalimantan, Makassar, dan wilayah lainnya. Nah, salah satu yang menarik perhatianku adalah postingan kak Andi bersama teman-temannya yang sedang berlibur di Pantai Buton. Aku melihat postingan foto Pantai Buton yang sangat bersih pasirnya, bersih juga suasana pantainya, tak ada sampah terlihat. Belum lagi air lautnya amat jernih, semacam pantai di sebuah pulau, masih sangat asri dan nyaman. Aku melihat kak Andi bermain bersama teman-temannya di Pantai Buton dalam postingan fotonya di FB. Dalam hati aku bergumam, “Kapan ya kira-kira aku bisa ke Buton juga? Jadi penasaran pengen ke Buton juga. Tapi kan butuh biaya cukup banyak untuk tiba di sana, hmmmm,” aku hanya bisa bergumam. Mengingat saat itu statusku hanyalah mahasiswa yang masih mengandalkan uang orang tua. Tentu saja kuurungkan niatku untuk berwisata jauh-jauh, dikarenakan kemampuan finansialku sama sekali belum mandiri.

            Aku tak tahu pasti, pantai Buton yang dikunjungi kak Andi beserta teman-temanya itu di mana. Hanya saja ia hanya menuliskan pantai Buton di unggahannya. Buton ternyata amat luas. Aku pun tak ingin terlalu kepo dengan kak Andi, biar saja nanti aku cari tahu sendiri, yang jelas aku ingin sekali ke Buton, walau hanya dalam hati niat itu kuucapkan.

           Aku memang memiliki antusias yang tinggi akan keindahan-keindahan alam. Aku tentunya tidak hanya maniak pantai, tapi aku juga menyukai pegunungan dan udara sejuknya. Intinya, aku adalah orang yang suka berwisata. Tentunya tak hanya ke alam, berwisata budaya dan religi pun sangat aku sukai. Intinya aku memang orang yang tak betah berlama-lama di dalam rumah. Paling betah di rumah ya seminggu, itu pun aku sudah banyak uring-uringan dan harus keluar. Paling tidak untuk masa pandemi seperti ini, ya keliling-keliling komplek atau pergi ke pasar terdekat saja dulu, karena untuk berwisata, masih sangat banyak syarat yang harus dipenuhi.


Impian yang Terjawab

            Allah selalu mendengar doa hamba-hambaNya. Hal itulah yang kuyakini hingga saat ini. Terkadang, aku pun merasa kalau aku tak terlalu serius berdoa pada Allah akan suatu keinginan, tapi entah mengapa Allah wujudkan doa itu (sudah sepatutnya aku banyak bersyukur saat ini). Beberapa tahun yang lalu, aku pernah berkata dalam hati, “kapan ya kira-kira aku bisa ke Buton? Ingin sekali rasanya pergi main ke Pantai Buton seperti kak Andi.” Doa itu hanya seperti gumaman dalam hati, yang mungkin saja bagiku itu tak mungkin, karena memang kemampuan finansialku tak akan cukup untuk pergi ke Buton.

            Tapi siapa sangka? Apa yang tak mungkin bagiku, ternyata justru terjadi. Halinilah yang disebut jika Allah mau, maka apapun bisa terjadi. Apapun pinta kita, baik dalam hati ataupun terucap, insyaAllah semuanya akan Allah wujudkan, semuanya, tinggal menunggu waktu yang tepat. Qadarullah, setelah 1,5 tahun lulus dari pendidikan pasca, aku dilamar oleh orang Suawesi dan ternyata kampung halamannya bersebelahan dengan tanah Buton. Sungguh suatu hal yang di luar nalar (jika dipikirkan saat ini), kenapa bisa? Kok bisa-bisanya aku yang ingin ke Buton dahulu, malah berjodoh dengan orang yang kampng halamannya bersebelahan dengan Tanah Buton?.


Liburan Idul Fitri dan Rencana Tamasya ke Pantai Mutiara Buton

            Saat liburan idul fitri beberapa bulan lalu, kami berlibur ke Kendari dan Pulau Muna (kampung halaman suami). Aku sama sekali tak meminta tamasya yang jauh-jauh (karena masih masa pandemi), hanya saja pintaku saat itu sebelum ke Kendari dan Muna, “aku hanya ingin makan seafood saja nanti kalau sampai Kendari, terus ke Universitas HaluUleo (Kendari) dan berkeliling kota Kendari." Tapi suamiku malah menjawab, “nanti kita ke Pantai Mutiara Buton ya, saat tiba di Muna (pulau kampung halaman suami yang berjarak empat jam dari Kota Kendari),” katanya dengan santainya. “Ah yang benar?, wah… asyik dong,” jawabku saat itu.

            Saat beberapa hari kami tiba di Muna, setelah bersilaturahmi dengan sanak keluarga, suamiku benar-benar mengajakkami sekeluarga untuk bertamasya ke Pantai Mutiara, Buton Tengah. Tepat tanggal 30 Mei 2021, hari Minggu pagi, kami sekeluarga pergi bertamasya ke Pantai Mutiara, Buton Tengah. Walau kondisi kesehatanku sedang tak baik, tapi aku tetap ingin ikut (aku batuk kering sejak di Jakarta). Menurutku tak apalah aku ikut jalan-jalan, karena badanku sama sekali tak merasakan demam. Walau seringkali batuk saat perjalanan, tapi aku bisa menikmati suasana perjalanan menuju pantai Mutiara Buton.


Perjalanan Ke Pantai Mutiara Buton Tengah

            Kami menggunakan dua mobil sewaan untuk tiba ke sana. Memakan waktu 3 jam perjalanan darat, dari kecamatan Barangka (Pulau Muna, Sulawesi Tenggara). Perjalanan darat yang ditempuh cukup menantang, karena jalan aspal yang tidak begitu mulus, ditambah dominasi tanah kapur, yang membuat perjalanan terkadang menjadi berdebu.


Perjalanan Menuju Pantai Mutiara Buton Tengah dari Kecamatan Barangka (Kepulauan Muna)

            Suasana menjadi sangat indah, ketika hampir tiba di objek Wisata Pantai Mutiara Buton. Sebelah kiri, mata kita akan dimanjakan dengan suasana pantai yang amat indah di sepanjang perjalanan, pantainya amat biru dan jernih, sangat berdekatan dengan jalan raya dan pemukiman penduduk. Sementara sebelah kanan jalan, mata akan dimanjakan dengan perkebunan jambu mete yang amat subur, hijau dan rimbun.

            Aku sampai berceloteh pada suami, “Abi, sepertinya bagus juga kalau memiliki tanah di sini, bangun rumah di sini, nanti bangun pagi, view  kita laut Bi, udara masih sangat segar. Pemandangan pantainya pun indah, jadi serasa liburan setiap hari. Belum lagi ikan-ikan di sini amat segar. Pati enak kan Bi, punya rumah di sini.” Suami ku hanya berkata,”Ya, boleh juga.” Tapi aku yakin saja, toh kata-kata itu adalah doa, insyaAllah nanti akan diijabah, aamiin.

 

Pantai Mutiara Buton Tengah.

            Biaya masuk Pantai masih sangat terjangkau. 1 orang dikenai biaya sekitar Rp 10.000,- (aku lupa biaya pastinya, yang jelas tk lebih dari itu). Untuk 1 mobil seingatku waktu itu kami membayar Rp. 75.000,- . Kami memasuki kawan wisata tersebut yang tak begitu ramai, dikarenakan lebaran sudah berlangsung sejak beberapa minggu sebelumnya (kabarnya saat lebaran tiba, pantai ini banyak dikunjungi wisatawan). Hanya ada dua keluarga besar yang mengunjungi pantai tersebut saat itu. Saat pertama kali tiba, aku melihat pemandangan yang masyaAllah sungguh indah. Pantainya jernih, pasirnya putih. Wajar jika disebut Pantai Mutiara.

Gradasi warna Pemandangan Langit dan Laut yang sangat indah.


            Belum lagi gradasi langitnya yang amat pas, biru, biru tua dan amat jernih warnanya, berpadu dengan laut yang berwarna biru tosca dan biru tua, sungguh gradasi yang amat indah. Ombak pantai pun amat tenang, sehingga aman untuk dipakai mandi pantai.

Pantai yang Indah
Rindu ingin kembali berkunjung
Photo Taken by Me


            Karena membawa bekal dari rumah, sebelum bermain di pantai, kami langsung makan siang terlebih dahulu. Ada tempat penyewaan tikar di sana. Di bawah pohon yang rindang, kami pun makan siang bersama dimanjakan dengan pemandangan laut yang amat jernih. Usai makan, kami pun sholat zhuhur di mushola yang tersedia di dalam kawasan wisata Pantai Mutiara.

Fasilitas berupa Kamar Kecil, Mushola yang tersedia
Photo By Travelspromo.com


            Usai sholat, keluargaku bergegas untuk mandi pantai. Aku dan Ayya hanya memilih bermain pasir dan berfoto di pinggir pantai. Karena aku sama sekali tak membawa baju ganti. Saat itu, aku hanya memngingat gumamanku beberapa tahun yang lalu, ‘kapan ya aku ke Buton juga? Ke pantai Buton juga?’, dan hari itu benar-benar terwujud.


            Sangat recommended menurutku untuk mengunjungi Pantai Mutiara Buton ini. Bahkan jika memiliki banyak waktu kita bisa camping  di pantai ini, karena saat akan pulang ke rumah sekitar jam empat sore, aku melihat ada beberapa anak muda yang mendirikan tenda dan mempersiapkan peralatan camping

            Semoga aku nanti bisa mengunjungi keindahan alam Sulawesi yang lainnya, karena masih banyak pesona pantai di wilayah Sulawesi yang belum kukunjungi.

  

Menjadi Ibu adalah Hikmah

Kamis, 26 Agustus 2021

                      

            Menjadi ibu,anugerah terindah dari Nya. Menjadi ibu tak serta merta harus menjadi ibu sempurna. Menjadi ibu adalah proses, proses yang akan mengantarkanmu pada kebahagiaan. Menjadi ibu sungguh tak mudah, tapi akan kau temui cahaya hikmah di dalamnya.

 

Ayya saat masih berusia 2 minggu.

            Alhamdulillah sudah hampir 3 tahun saya menjadi seorang ibu. Ibu dari 1 anak perempuan yang saya beri nama Karima Diyah Tsurayya atau akrab saya panggil Ayya. Tentu banyak sekali cerita dan hikmah yang menghiasi keseharian saya.

            Ada cerita gembira dan ada  juga cerita suka duka di dalamnya. Terlepas dari itu semua, saya merasa bahagia, saya merasa bersyukur bisa menjadi seorang ibu.

           

Hijrah dan Resign dari Pekerjaan.

            Sebelum menikah saya adalah Dosen Luar Biasa (DLB) atau Dosen Honorer di 3 Universitas di Provinsi Bengkulu. Saya mengajar di Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Universitas Terbuka dan juga IAIN Bengkulu. Walau saya hanyalah Dosen Luar Biasa, tapi alhamdulillah, saya sudah mengajar lebih dari seratus mahasiswa, dengan rentang usia yang juga beragam. Saya pernah mengajar Bapak Polisi yang berumur sekitar 50 tahunan, para pegawai BKKBN yang hampir seusia ayah saya dan juga Polisi berpangkat muda yang baru saja lulus Akpol, alhamdulillah saya diberi kesempatan mengajar mereka di program studi Ilmu komunikasi.

            Saya juga pernah mengajar di Lebong (menempuh 4 jam perjalanan dari Kota Bengkulu) dan juga Bengkulu Tengah. Alhamdulillah semua itu saya lalui 1,5 tahun pascalulus dari UGM. Memang saya sangat menyukai dunia pendidikan, terkhusus kegiatan belajar mengajar. Bagi saya mengajar adalah proses healing bagi saya pribadi. Ketika menyampaikan materi ataupun berdiskusi, saya terkadang tertawa kecil di dalam hati, ketika melihat tingkat polah anak didik saya. Ada yang sok tahu,ada yang selalu ingin bicara, ada yang memang betul-betul pintar, ada juga yang pintar tetapi memilih untuk diam saja. Semua itu membawa kebahagiaan tersendiri bagi saya.

            Menginjak tahun kedua saya mengajar, saya dilamar dengan seseorang  (seorang dosen juga dari Tanah Sulawesi, hanya saja berdomisili di Jakarta). Sejak memutuskan menikah, maka saya hijrah ke DKI Jakarta dan benar-benar berhenti dari kegiatan saya yakni dosen.

            Tentu saja, ini adalah keputusan yang berat, karena saat itu kondisi saya akan diajukan menjadi dosen kontrak dan mendapatkan Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN). Tentunya hal ini adalah hal yang amat saya nanti sejak dulu sebagai pengajar. Hal ini juga bukan janji kosong, karena kebetulan dosen kontrak sebelumnya yang mengisi jabatan sebagai dosen tetap di Universitas Muhammadiyah Bengkulu lulus CPNS, sehingga 1 kursi dosen kontrak (yang nantinya akan berproses menjadi dosen tetap yayasan) kosong. Ini merupakan kartu joker bagi saya, seorang dosen komunikasi yang memang ingin berkarir serius menjadi dosen. Tapi apa mau dikata, saya malah memilih Jakarta dan meninggalkan impian saya menjadi dosen tetap di Bengkulu. Toh menurut saya, karir saya nanti juga bisa dilanjutkan di DKI.

 

Kehidupan Awal di Jakarta

    

Salah Satu Sudut Jakarta (Mall Central Park, Jakarta Barat)

            Akhir Januari 2018, chapter baru hidup saya dimulai di Jakarta, di salah satu rumah kontrakan di Jalan KH.Djunaedi Jakarta Barat. Saya benar-benar bukan lagi menjadi seorang dosen, keseharian saya berubah. Bangun pagi saya harus memasak, menyapu rumah, mencuci baju dan juga membereskan rumah. Tiba sore hari saya kembali menyiapkan makan malam dan juga membereskan rumah, begitu saja setiap hari.

            Belum lagi circle pertemanan saya yang tiba-tiba mengecil. Tadinya di Kota Bengkulu saya memiliki banyak teman. Sementara di Jakarta, teman saya hanyalah suami dan tetangga kontrakan. Terkadang saya benar-benar merasa bosan, kadang saya menangis sendirian di dalam kontrakan sambil mengeluh dalam hati, “Coba dulu saya tetap mengajar saja.” Keseharian saya yang begitu-begitu saja, membuat saya merasa sensitif, saya sering sekali marah-marah tanpa sebab pada suami. Ya, suami saya bekerja dari jam 9 atau jam 10 pagi hingga malam pukul 9.30 wib malam baru pulang. Suami seringkali pulang ke rumah sekitar setengah jam untuk makan siang saja, kemudian pergi lagi ke kantor. Rasa-rasanya saya hampir depresi, tapi kesemua itu saya lalui, pokoknya saya harus kuat, saya pasti bisa. Saya pun mengalihkan kesendirian saya dengan memasak beragam menu, semuanya otodidak, dengan melihat resep di internet atau youtube.

            Bulan kedua kami menikah. Saya merasa aneh, mengapa saya haid hanya 1 hari kemudian berhenti? Saya merasa juga di bagian pinggul saya amat terasa sakit. Saya berusaha mencari info dari teman-teman terdekat saya yang sudah menikah. Mereka menyarankan saya agar membeli testpack. Anjuran itu saya ikuti, dua testpack saya gunakan saat baru bangun tidur di pagi hari,dan ternyata memang dua garis, hanya saja garis satunya masih buram. Karena masih penasaran, akhirnya saya berinisiatif pergi ke dokter kandungan di RSAB Harapan Kita, Jakarta Barat. Setelah diperiksa, saya dinyatakan positif hamil oleh dokter kandungan. Alhamdulillah, antara perasaan senang dan takut, karena jujur saja saya merasa belum siap jadi ibu di waktu itu.

 

Kondisi Hamil

            Saat hamil, saya tidak mengalami banyak kendala, hanya saja calon bayi saya selalu mengalami kekurangan berat badan. Saya pun dianjurkan oleh dokter untuk banyak mengonsumsi es krim, alpukat dan juga meminum Kental Manis 1 gelas tinggi. Belum lagi HB saya sering rendah, sehingga saya harus meminum jus buah bit dan juga mengkonsumsi banyak daging merah (daging sapi). Kondisi ini membuat BB saya naik 16 Kg di akhir masa kehamilan, namun masih saja BB bayi di bawah normal.

            Tentu saja saya sedih, kenapa susah sekali naik BB badan calon anak saya ini? Kenapa harus saya yang banyak makan, sementara BB bayi tidak juga naik? (Ya tetap, saya masih saja belum banyak bersyukur dan mengeluh saat itu). Jujur saya belum sebijak sekarang saat itu. Entahlah, mungkin karena saya masih merasa sedih dengan kondisi saya saat itu, “kok saya malah jadi ibu rumah tangga?, ngapain sekolah tinggi?,”.

            Oh ya, walau saya berhenti menjadi dosen tatap muka, tapi rezeki datang pada saya, dengan masih dipercayanya saya menjadi dosen (tutor online Universitas Terbuka). Tapi saya masih saja ogah-ogahan bekerja, karena menurut saya saat itu, lebih keren menjadi dosen tatap muka daripada hanya menjadi tutor online. Sungguh tak pandai bersyukur saya saat itu.

    Menginjak usia kehamilan 8 bulan, aku pun kembali ke Bengkulu untuk persiapan melahirkan. Karena memang tak ada keluarga dekat di Jakarta, maka aku memutuskan untuk melahirkan saja di Bengkulu, karena ada Bapak dan Mama di rumah.

 

Kehadiran Ayya

            Bengkulu, 7 Oktober 2018, Ayya lahir dengan BBLR (Berat Bayi Lebih Rendah) dengan cara operasi caesar (SC). Ayya lahir dua minggu lebih cepat dari HPL yang ditetapkan Dokter. Saat menginjak usia kehamilan 9 bulan, sudah dua dokter kandungan yang menyarankan untuk segera operasi caesar, karena berat badan bayi di bawah normal, nutrisi dari ibu sudah tak tersalurkan lagi saat itu. Jika terus menunggu hingga HPL dan ingin lahiran normal, maka akan berbahaya bagi kondisi bayi.



            Saya masih tak percaya, saya pergi ke dokter ketiga, saat itu ke Rumah Sakit UmmiKOta Bengkulu, saya pergi ke dokter Deddy, SPOg atas dasar rekomendasi kakak saya. Di dokter tersebut saya memang langsung disarankan untuk operasi keesokan harinya, karena plasenta sudah kering, sementara berat badan bayi di bawah normal. Dokter mengatakan jika masih ingin menunggu lahiran normal, maka akan berbahaya bagi janin. Tentu saja saya ketakutan dan khawatir. Saya pun menelepon suami saya yang ada di Jakarta, saya bilang saya takut, saya khawatir kalau nanti janin saya kenapa-kenapa. Akhirnya kami memutuskan agar saya dioperasi lusa, tepat di hari Minggu, tanggal 7 Oktober 2018 di RSU Ummi Kota Bengkulu.

            Malam sebelum dioperasi keesokan harinya saya tak bisa tidur. Saya membayangkan apakah saya masih ada keesokan harinya atau kah nanti akan meninggal?. Apakah operasinya lancar atau tidak?. Tiba keesokan harinya, saya pun menjalani operasi, alhamdulillh lancar, kurang dari 1 jam saya sudah keluar dari ruang operasi dan suda resmi menjadi seorang ibu dari seorang bayi perempuan.

            Alhamdulillah saya bersyukur, amat bersyukur atas kelahiran Ayya. Namun ternyata, cobaan belum selesai. Keesokan harinya Ayya harus masuk ke dalam incubator, karena BB nya yang kurang dari batas sewajarnya. Akhirnya saya pulang ke rumah, tanpa membawa bayi. Ayya tetap di RS sementara saya istirahat di rumah.

 

Bersama Ayya Kembali Ke Jakarta

            Usia 2,5 bulan, saya memutuskan membawa Ayya kembali ke Jakarta. Saya yakin bisa menjaga Ayya tanpa bantuan mama saya. Memang bukan hal yang mudah, tapi saya harus memberanikan diri untuk mandiri mengurus anak. Saya hanya berdoa, semoga saya dikuatkan dan bisa menjadi Ibu yang baik untuk Ayya.

            Tentu saja tak mudah mengasuh anak sendiri di rumah, sementara suami sibuk bekerja. Saya harus jadi ibu pantang menyerah dan mengurangi mengeluh. Saya harus mampu menahan keluh kesah, walau sebenarnya capek luar biasa. Belum lagi harus begadang malam, ketika Ayya maunya digendong terus, tidak mau ditidurkan di tempat tidur.

Ayya di taman Bermain (Palmerah, Jakarta Barat)

            Kalau misalnya saya mengeluh pada mama saya melalui telepon, justru malah dibilang, “Ya begitu jadi ibu, makanya kalau sama orang tua itu nurut, sekarang baru kerasa kan gimana jadi orang tua?,” ujar mama saya.

            Ya begitulah saya harus kuat, kuat menyiapkan hidangan makanan bagi suami, kuat menjadi ibu, kuat belanja bahan makanan di pasar dan juga kuat membereskan rumah. Beruntung saya mempunyai suami yang mau membantu pekerjaan sehari-hari, misalnya menjemur pakaian,bergantian mencuci piring atau menyapu rumah. Alhamdulillah.

 

Hikmah Menjadi Ibu

            Saat ini, saya sudah menginjak usia 30 tahun. Tentu saja pemikiran saya sudah mulai dewasa. Saya sudah jarang mengeluh. Saya juga sudah bisa menerima status saya sebagai ‘Ibu Rumah Tangga’. Memang, keinginan saya untuk menjadi dosen tatap muka kembali seperti masih ada, tetapi qadarullah, setiap lamaran yang saya kirimkan belum juga bersambut. Saya berpikir positif saja, bisa jadi kondisi sebagai ibu rumah tangga saat ini adalah yang terbaik bagi saya.

    

Ayya dan Umi di Pantai Mutiara Buton Tengah (Sulawesi Tenggara)

            Ada Ayya yang membutuhkan perhatian saya, ada keluarga kecil saya yang membutuhkan saya full time di rumah. Toh, saya masih diberi kesempatan mengajar walau sebagai tutor online Universitas Terbuka. Saya bersyukur juga, karena saya bisa meluangkan banyak waktu untuk berkreasi membuat ragam masakan. Alhamdulillah saya juga merasa bahagia, karena Ayya tumbuh sehat dan ceria. Saya juga merasa bahagia karena saya bisa dan ternyata mampu mengurus rumah tangga walau masih harus banyak belajar.

            Saya berusaha mencontoh hal-hal baik yang diberikan oleh mama saya. Mama saya berpesan agar seringlah memasak di rumah untuk keluarga. Selain bisa menghemat biaya, tentu saja akan lebih sehat dan higienis. Kemudian ketika memasak, sebisanya harus cantik, mandi terlebih dahulu dan juga cantik, tak masalah menggunakan make up tipis dan tampil wangi untuk di rumah. Menyenangkan anak dan suami adalah prioritas. Jangan cepat tersinggung, berusahalah dewasa, berusaha menerima keadaan. Jangan lupa olahraga, karena ibu itu kalau bisa jangan sering sakit. Jaga kondisi pikiran agar tetap bahagia, karena bukannya apa, terkadang penyakit itu sumbernya dari pikiran. Saya berusaha mengikuti nasihat-nasihat dari mama saya,tentunya ini juga demi kebaikan saya.

            Menjadi Ibu adalah anugerah terindah dari Nya. Saya bersyukur, walau ‘masih’ di rumah saja, saya bisa menggali potensi saya yang lain, yakni memasak. Selain itu, sudah 2 tahun ini saya menjalankan bisnis online saya yang saya beri nama @yueayuustore (instagram), walau masih kecil-kecilan, tapi saya banyak belajar. Dimulai dari menjadi menjadi reseller, akhirnya saat ini saya sudah bisa menyetok barang. Prinsip saya, walau saya ‘di rumah saja’, tapi saya harus mengoptimalkan potensi saya, saya harus punya karya. Bismillah.

Berobat Mata Ke RS JEC Kedoya JakBar

Kamis, 19 Agustus 2021

Berobat Mata Ke RS JEC Kedoya pada Masa PPKM Level 4

Photo by Me

            Jum’at lalu (tanggal 6 Agustus 2021) saya memutuskan untuk mengunjungi Jakarta Eye Center yang ada di Kedoya, Jakarta Barat. Hal ini dikarenakan mata saya serasa perih sejak jalan pagi pada hari Kamis sebelumnya di komplek DPR Palmerah. Saat sedang menggendong Ayya (anak saya, usia 2 tahun 10 bulan) untuk main perosotan, mata saya serasa disemprot oleh ‘gas asing’, amat perih dan pandangan saya tiba-tiba seperti berwarna oranye (padahal itu pagi hari). Saya mengira bahwa mata saya terkena asap bakaran sampah di samping taman, tetapi rasanya tak mungkin, karena sumber asap cukup jauh. Tak mungkin kalau sampai ke mata saya, lagian memang asapnya tidak sampai ke dalam taman.

            Saya masih berprasangka baik, saya gendong kembali Ayya, lalu saya naikkan lagi ke atas perosotan. Ah.. ternyata perih kembali, seperti ada yang benar-benar menyemprotkan ‘gas asing’,  saya kedip-kedipkan mata. Makin terasa perih. Saya masih pura-pura tak terjadi apa-apa. Saya masih mengajak Ayya bermain sembari sesekali memotretnya. Bermain di taman DPR ini sangat menyenangkan jika dilakukan pada waktu weekday, karena taman DPR akan sepi pengunjung dibandingkan weekend, mengingat saat ini masih masa PPKM Level 4 dikarenakan lonjakan kasus covid 19 di Indonesia.

            Lokasi taman DPR tak jauh dari rumah saya. Taman ini terletak di dalam komplek perumahan DPR RI Palmerah, Jakarta Barat. Tamannya tak terlalu luas, tapi cukup untuk digunakan sebagai sarana olahraga bagi masyarakat sekitar. Di dalam lokasi taman terdapat beberapa tanaman hias yang tertata rapi dan juga beberapa arena bermain anak, salah satu contohnya yakni perosotan. Taman tersebut juga dilengkapi dengan beberapa bangku taman yang dapat digunakan untuk bersantai di pagi hari menghirup udara segar di sekitar taman. Taman ini juga dilengkapi dengan beberapa pepohonan rimbun, sehingga udara sekitar taman amat sejuk. Dan yang lebih menyenangkan lagi, taman ini terbuka untuk umum.

            Waktu menunjukkan pukul 07.30 WIB, Abi Ayya mengajak untuk pulang, karena dirasa sudah cukup bermain di sekitaran taman dan kami juga sudah berjalan santai sekitaran kompleks sebelum tiba di taman DPR. Walau tak terlalu berkeringat, tetapi rasanya sudah cukup untuk olahraga ringan pagi ini. Sepanjang perjalanan pulang, saya merasa bahwa mata saya agak sakit, apalagi yang sebelah kanan. Hanya saja pandangan mata saya sudah terang kembali, tidak lagi oranye seperti sebelumnya di taman. Tiba di rumah, sakit mata yang saya rasakan semakin berat. Saya tidak merasa pusing, mata saya juga tak merah, hanya saja saya benar-benar merasakan sakit mata. Namun sakit mata kali ini berbeda, dikarenakan mata sama sekali tak merah dan juga tak bengkak.

 

Kondisi Mata Semakin Sakit

            Saya mengeluhkan hal ini pada Abi Ayya. Ia menyarankan agar saya pergi ke rumah sakit. Tapi saya masih enggan pergi ke Rumah Sakit karena saya cukup khawatir, mengingat saat ini penyebaran covid 19 amat tinggi, terkhusus di DKI Jakarta. Saya mencoba untuk mengurangi melihat layar Hp, saya mencoba untuk banyak istirahat saja pada hari itu.

            Keesokan harinya, mata saya masih saja sakit. Rasanya berat ketika melihat, terkhusus yang sebelah kanan. Saat sujud ketika sholat semakin terasa sakitnya. Saya pun kembali mengeluh pada Abi Ayya, “mata saya sakit, makin sakit sekarang,” ujar saya. Abi Ayya menyuruh saya untuk pergi ke dokter saja, ia menyarankan saya untuk pergi ke Jakarta Eye Center (JEC) Kedoya, Jakarta Barat.

 

Memutuskan untuk ke JEC

            Karena saya sudah tak tahan, akhirnya saya pun memberanikan diri untuk pergi saja ke JEC dengan menggunakan Gocar. Saya tak mau mengendarai motor sendiri ke sana, karena kondisi mata sedang tak baik. Sekitar jam 9.30 wib, saya tiba di Rumah Sakit JEC. Tiba di lobi, saya diminta untuk mengisi semacam aplikasi dari JEC terkait kondisi kesehatan fisik (karena masih dalam masa PPKM).

            Awalnya saya melakukan scan barcode menggunakan HP dan mengarahkan wajah pada layar televisi yang sudah dilengkapi camera pendeteksi suhu (dilakukan secara digital). Setelah suhu badan dinyatakan normal, maka saya diberi stiker hijau (sebagai penanda pengunjung) yang ditempelkan pada bahu dan dipersilahkan untuk masuk.

            Tiba saatnya masuk lobi, saya dibantu petugas untuk melengkapi aplikasi kesehatan terkait kondisi fisik menggunakan handphone. Di sana terdapat beberapa pertanyaan, apakah sedang mengalami demam? Apakah sedang flu? Apakah mengalami flu batuk? Apakah sedang mengalami sakit kepala?, dsb (semua pertanyaan di dalam aplikasi menggunakan bahasa Inggris). Jika kondisi kita dinyatakan sehat setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka kita dipersilahkan untuk mengambil nomor antrian. Setelah beberapa menit menunggu akhirnya saya dipersilahkan untuk menuju meja pendaftaran.

Lobi RS JEC KEDOYA Jakarta Barat
Photo by www.jec.co.id

            Suasana di dalam JEC Kedoya sangatlah nyaman. Pengunjung tidak terlalu ramai, pasien RS ini didominasi orang-orang keturunan Cina. Dengan desain interior yang amat modern, kita akan sangat dimanjakan dengan kondisi ruangan yang supernyaman dan bersih. Di sebelah kanan saat masuk akan terlihat semacam mini café yang menjual beberapa pastry dan minuman (mini café di dalam JEC didesain mewah dan amat bersih), selain itu juga dilengkapi dengan kursi-kursi sofa yang nyaman bagi pengunjung yang sedang menunggu antrian. Selain itu JEC juga dilengkapi dengan 1 optik yang berada di samping kiri lobi. Ruangan-ruangan di JEC full AC dan didesain artistik. Dilengkapi juga dengan robot digital berwarna putih yang berkeliling menyampaikan informasi seputar JEC (dengan menggunakan bahasa Inggris).

            Tiba saatnya nomor antrian saya dipanggil. Petugas bagian administrasi pendaftaran sangatlah ramah, dengan menggunakan masker kn95, faceshield serta penutup rambut (medis), mereka melayani dengan sangat profesional. Pertama yang saya lakukan adalah mengeluarkan kartu keanggotaan saya di JEC, setelah itu mengeluarkan kartu asuransi Admedika. Kemudian saya diberi pertanyaan mengenai keluhan mata yang saya rasakan. Petugas pun merekomendasikan beberapa orang dokter spesialis mata yang bisa saya pilih. Ada lebih dari 5 orang dokter yang bisa saya pilih di daftar list dokter Spesialis Mata yang hadir hari itu. Awalnya saya ingin dokter perempuan saja yang memeriksa saya, tetapi karena pasien dokter wanita yang bersangkutan sudah cukup penuh, maka saya memilih dokter spesialis mata yang sekiranya masih sedikit antrian pasiennya.

            Petugas menyarankan untuk memilih dr. Setiyo Budi Riyanto, SpM (K), dikarenakan antrian pasiennya belum terlalu panjang. Saya pun menyetujui. Setelah urusan administrasi selesai, saya pun dipersilahkan untuk naik ke lantai 3 dan menuju ruangan praktek dr.Setiyo Budi, SpM (K). Saya menuju lantai 3 menggunakan lift, sebelum memasuki lift, saya menggunakan handsanitizer yang terletak di depan lift (hanya cukup mengarahkan tangan saja ke arah handsanitizer, maka cairannya akan otomatis keluar sendiri). Setelah itu saya masuk ke dalam lift dan langsung menuju lantai 3. Di dalam lift pun telah dibuat sedemikian rupa menggunakan tanda di lantai yang menunjukkan tempat berdiri pengunjung agar tidak berdempetan saat berada di dalam lift.

Kondisi di dalam lift
Photo by Me


            Di lantai 3 saya menyerahkan berkas saya ke ruangan pemeriksaan mata sebelum menuju ke praktek dokter. Di sana saya dipersilahkan untuk menuju ruangan observasi terlebih dahulu yang terletak di sebelah ruangan pemeriksaan awal. Di ruang observasi, suhu saya kembali dicek dan tensi darah saya juga diukur secara manual. Setelah dinyatakan normal, maka saya baru boleh memasuki ruangan pemeriksaan awal.

            Di dalam ruangan pemeriksaan awal, saya diberi pertanyaan terkait keluhan apa yang saya rasakan. Saya mengatakan bahwa mata saya seperti ada yang menyemprot dan kemudian terasa sakit terlebih pada bagian sebelah kanan. Saya diminta untuk melepas kaca mata. Dengan menggunakan alat khusus, bagian kanan dan kiri kaca mata saya di scan, dan diketahui berapa minus dan silindris kaca mata saya tersebut.

            Tahap selanjutnya, dilakukan pemeriksaan mata mata untuk mengetahui apakah mata saya minusnya bertambah atau tidak, masih menggunakan alat yang sama. Saya diminta untuk menebak huruf dan angka yang terdapat dalam monitor, (pemeriksaan mata dilakukan secara digital). Penggunaan alat kesehatan  dilakukan dengan menggunakan protokol kesehatan, di mana setelah saya menempelkan dagu, alat tersebut disemprot cairan steril dan kemudian dikeringkan menggunakan tisu terlebih dahulu baru digunakan kembali. Kemudian pemeriksaan selanjutnya adalah mengukur ukuran bola mata, saya kembali diminta untuk meletakkan dagu saya ke alat pemeriksa mata, kemudian saya diberi perigatan bahwa nanti mata saya seperti disemprot sedikit dengan menggunakan angin. Setiap pemeriksaan dilakukan secara digital dan detail.

            Setelah melakukan tahap pemeriksaan awal, saya pun membawa berkas hasil observasi awal yang sudah diprint out ke bagian dokter spesialis. Saya pun dipersilahkan menunggu. Sekitar setengah jam saya menunggu. Ruang tunggu yang didesain nyaman ini juga dilengkapi dengan aquarium yang menarik untuk diperhatikan. Selain itu ruang tunggu juga bersebelahan dengan ruangan Lions Eye Bank Jakarta (LEBJ).  LEBJ  merupakan yayasan nonprofit  terkait penyediaan, pengambilan dan distribusi jaringan kornea terbaik.

Photo by Me

 Pemeriksaan Mata oleh Dokter

            Tiba giliran saya masuk ke ruangan pemeriksaan. Saya bertemu dengan Dokter Setiyo Budi, dokter paruh baya yang ramah. Pertama saya ditanya mengenai keluhan apa yang saya rasakan. Kemudian mata saya kembali diperiksa dengan menggunakan alat khusus, di mana dagu saya diletakkan pada alat tersebut, sementara mata saya diperiksa dengan menggunakan alat seperti monitor. Hanya dalam hitungan detik hasil diagnose mata saya muncul di layar yang terletak di depan tempat saya diperiksa. Dokter pun menjelaskan masalah yang terjadi pada mata saya. Permasalahan yang saya alami pun segera diketahui.

            Saya mengalami mata kering, yang menyebabkan mata saya perih, seperti ada yang menyemprot dan kemudian sakit. Hal ini diakibatkan karena saya seringkali melihat screen laptop, handphone dan juga seringkali berada di ruangan ber AC. Saya disarankan untuk tidak melihat layar screen terlalu lama dan harus meneteskan obat tetes mata per 3 jam sekali. Kemudian saya juga diberi vitamin mata yang harus saya minum selama 2 bulan. Minus  mata saya pun naik, menjadi minus silindris 1,5 pada mata kanan dan minus 1 pada mata kiri.

            Usai menjelaskan dengan detail. Dokter tersebut bertanya apakah masih ada keluhan atau pertanyaan lain?. Saya pun menjawab tidak ada, karena sudah sangat jelas. “Oke terima kasih Ibu, sampai jumpa kembali,” ucap dokter tersebut sembari memberi salam jarak jauh kepada saya.

Photo by jec.co.id


            Saya dipersilahkan petugas untuk menuju bagian administrasi dan kemudian menuju bagian farmasi. Setelah urusan administrasi selesai, saya pun menuju bagian optik untuk mengambil catatan kondisi mata saya. Saya tidak membeli kaca mata di optik yang disediakan JEC. Terakhir saya megambil fotokopi resep di bagian farmasi. Saya berniat segera pulang ke rumah, karena suami saya akan sholat Jumat di masjid. Nanti usai sholat Jumat, suami saya saja yang akan mengambil resep obat ke RS JEC Kedoya.

 

Informasi lengkap mengenai RS JEC KEDOYA dapat diakses di www.jec.co.id

laman instagram JEC Eye Hospitals & Clinics