Top Social

Design Thinking for Educators

Selasa, 05 Desember 2023

                                         

Jumat siang, tanggal 1 Desember 2023,  saya mendapat undangan untuk menghadiri pelatihan Design Thinking for Educators yang dilaksanakan oleh The Local enablers School of Innovation yang bekerja sama dengan Lewrick and Company International Certification Program di hotel Aston Priority TB Simatupang, Jakarta Selatan. Pelatihan ini merupakan pelatihan yang diperuntukkan bagi para dosen di UPN “Veteran” Jakarta (UPNVJ) yang digagas oleh pihak LP3M UPNVJ. Namun, dalam pelatihan ini, hanya diikuti oleh 30 orang dosen, yang berasal dari berbagai fakultas yang ada di UPNVJ, yang berlangsung selama 3 hari (1-3 Desember 2023). Hadir juga bersama kami para pimpinan dari berbagai fakultas, termasuk Rektor UPNVJ yakni Bapak Dr. Anter Venus, M.A. Comm. Tentu saja undangan tersebut saya sambut dengan baik, kapan lagi saya bisa mendapat kesempatan emas ini, yakni belajar mengenai Design Thinking langsung dari pakarnya yang mendunia yakni Michael Lewrick, Ph.D., MBA yang berasal dari Switzerland. Michael Lewrick juga telah menerbitkan beberapa buku terkait Design Thinking. 

              Persiapan saya lakukan apa adanya, karena acara akan dimulai pada pukul 14.00 WIB. Sempat mengalami panic syndrome juga, karena antara terkena macet dan keinginan sampai tepat waktu yang sudah tak mungkin tercapai. Belum lagi panitia yang sudah WA bahwa acara akan segera dimulai. Walau telat setengah jam, tetapi tentunya tidak mengurangi esensi pembelajaran. Saat tiba di ruangan   Jagakarsa 1 Lantai 3, Bapak Dr. Dwi Indra Purnomo sedang mengisi materi mengenai Design Thinking. Di mana dalam penjelasannya tersebut, Bapak Dr. Dwi menjelaskan bahwa Design Thinking merupakan suatu desain mengenai bagaimana kita memikirkan suatu permasalahan bukan fokus pada produk solusinya terlebih dahulu, tetapi berpikir tentang mengapa hal tersebut bisa terjadi? Apa sebenarnya yang dibutuhkan masyarakat terkait permasalahan ini? Bagaimana caranya agar kita mampu mendengarkan permasalahan tersebut, dengan ‘why-why-why’ yang ada baru memikirkan solusi. Pada intinya adalah kita harus menjadi pendengar yang baik, sehingga akhirnya mampu menciptakan inovasi yang baik sebagai solusi dari permasalahan.

              Poin yang menarik dari penjabaran yang dilakukan oleh Bapak Dr.Dwi Indra Purnomo adalah mengenai perubahan inovasi yang dilakukan dari bottom up dengan kemampuan mendengarkan permasalahan yang baik akan lebih sustainable, dibandingkan dengan perubahan yang dilakukan dari Up to down yang hanya fokus pada solusi saja. Contohnya adalah, ketika di suatu daerah, pemerintah daerahnya fokus pada pembuatan taman-taman kota yang diharapkan mampu menjadi inovasi pada tata kota yang lebih baik, justru ketika pemerintah daerah tersebut tidak menjabat lagi, maka banyak taman kota yang terbengkalai dan tidak terawatt lagi. Hal ini terjadi, karena solusi yang diciptakan tidak berdasar pada ‘mendengarkan permasalahan dari masyarakat’. Sebenarnya hal apa yang paling diinginkan dan dibutuhkan masyarakat?.

    

Prototype UPNVJ sebagai kampus dengan Filosofi Bintang
yang Mampu Bersinar di Kancah Internasional (Anggota Kelompok berfoto Bersama Michael Lewrick)

              Setelah melalui tahapan penemuan why, maka hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah melakukan radical collaboration sebagai bentuk inovasi dari Design Thinking. Contohnya adalah Indomaret yang bukan sekedar toko kelontong biasa, tetapi juga menyediakan kopi yang disajikan melalui mesin pembuat kopi yang kemudian dijual dengan harga terjangkau, fried chicken yang enak yang dijual dengan harga terjangkau, produk donat dan sosis yang enak juga dengan harga terjangkau. Selain itu juga, terdapat produk lawson yang menjual beberapa makanan seduh, seperti odeng hangat yang dapat dinikmati seketika. Beberapa inovasi yang dilakuakn indomaret, tentunya atas dasar survey pasar mengenai hal apa sih yang dibutuhkan oleh masyarakat sekitar indomaret?. Jadi beberapa hal yang telah disebutkan tadi, yakni donat, kopi, lawson, fried chicken, serta sosis bakar merupakan inovasi dari Design Thinking, di mana konsumen tidak perlu jauh-jauh pergi ke beberapa gerai makanan yang diinginkan, karena dengan membuka pintu indomaret, maka kebutuhan tersebut segalanya akan terpenuhi.



Buku-Buku yang ditulis oleh Michael Lewrick

              Hari kedua dan ketiga, materi disampaikan langsung oleh Michael Lewrick, pakar Design Thinking Dunia. Pada awalnya kami dibagi menjadi beberapa kelompok, di mana satu kelompok berjumlah dua orang. Kami diminta untuk membuat pesawat dari kertas, kemudian menerbangkannya. Kemudian kami diminta kembali untuk membuat pesawat dari kertas yang lebih besar menggunakan satu tangan saja. Setelah itu kami diminta menerbangkannya kembali. Tentu saja tidak ada yang memiliki jarak tempuh yang jauh dan tepat sasaran, karena kertas yang digunakan terlalu besar dan hanya menggunakan satu tangan dalam membuat. Lalu Michael Lewrick menyatakan, mengapa tidak terpikirkan untuk meremuk kertas ini, lalu dibuang ke depan? Maka jarak tempuh akan jauh. Inilah yang disebut dengan Radical Collaboration. Di saat orang lain tidak memikirkan hal tersebut, kita memikirkannya. Dengan cara apa semua tersebut dapat tercapai? Ya itu tadi, dengan fokus mendengarkan, apa yang orang butuhkan saat ini, bukan fokus pada produk solusi.

Foto bersama dengan Pimpinan UPNVJ; para peserta; beserta Bapak Dr. Dwi Indra P


              Michael Lewrick kemudian meminta kami untuk membuat prototype tentang permasalahan Bahaya Obesitas di Suatu Negara. Masing-masing kelompok diberikan lego dan plestisin. Kami diminta untuk sekreatif mungkin membuat miniatur produk solusi dari permasalahan yang ada. Tentu saja tidak langsung membuat produk, tapi dengan cara mewawancarai partner kelompok tentang ‘Mengapa kok bisa jadi obesitas? Memangnya apa kegiatan Anda sehari-hari? Kesulitan apa yang Anda rasakan sehingga tidak memiliki waktu berolahraga? Kemudian apa kendala apa yang sering Anda temui ketika ingin memulai hidup sehat? Lalu hal apa kira-kira yang paling Anda butuhkan?’. Saat wawancara terjadi, partner saya menyebutkan bahwa Ia ingin memulai hidup sehat, tetapi cenderung kacau dalam mengatur waktu, selain itu jam kerja yang dimilikinya sangat tinggi, sehingga terkadang menjadi stress dan mencari pelarian dengan mengkonsumsi cemilan dan makanan manis. Maka dari itu, maka saya menawarkan untuk membuat inovasi alat digital AI yang dapat mengatur jadwal keseharian dari partner saya, di mana di sana juga bisa mengingatkan terkait hal apa yang baik dikonsumsi hari ini dan tentunya jadwal olahraga rutin yang terjadwal secara digital.

                                                                        

Berdiskusi sebelum Membuat Project

              Poin penting selanjutnya yakni mengenai metode pembelajaran di kelas, di mana sebagai dosen tentunya kita harus memperkenalkan metode Design Thinking kepada mahasiswa. Sebisa mungkin menggunakan sticky note yang full colour agar mahasiswa dapat merancang design thinking semenarik mungkin, lalu dipresentasikan kepada dosen untuk memecahkan permasalahan yang ada di sekitar. Selain itu, juga memperkenalkan tentang metode Persona, di mana dalam hal ini berkaitan dengan pimpinan suatu institusi. Kira-kira, apa yang menjadi permasalahan di suatu institusi? Silahkan coba untuk mendengarkan problem yang dirasakan oleh pimpinan Anda sebelum  nantinya memberikan solusi yang tepat pada pimpinan. Selain itu, menurut Michael Lewrick perlu adanya Radical Collaboration dari institusi pendidikan dengan Lembaga di luar pendidikan tersebut, misalnya bekerja sama dengan Hotel terbaik di Indonesia dalam ranah hospitality atau misalkan bekerja sama dengan Gojek dan Tokopedia dalam ranah digitalisasi. Pada intinya ketika ingin baik, maka jangan takut atau ragu untuk berkolaborasi dengan pihak lain di luar kita.

Hasil Analisis mengenai Persona bersama Tim




Penyerahan Sertifikat dan Foto Bersama Michael Lewrick

              Tentunya banyak insight baru yang saya dapatkan dari 3 hari pelatihan ini. Paling utamanya adalah saya akan mengubah metode pembelajaran di kelas, di mana saya tidak akan terlalu banyak menggunakan metode ceramah dan diskusi biasa saja, melainkan mahasiswa saya tuntut untuk kreatif memecahkan masalah dan mendesain pemikiran mereka terkait pemecahan masalah yang ditunjukkan melalui beragam desain canvas dan prototype. Setelah mengikuti beragam agenda pelatihan, tahap terakhir adalah kami menjawab assessment terkait Design Thinking. Bonus utama dari acara ini adalah, masing-masing dari peserta mendapatkan sertifikat internasional bagi pendidik terkait Design Thinking for Educators.