Top Social

Pentingnya Literasi Media melalui Budaya Sensor Mandiri

Selasa, 02 Oktober 2018

Blogger Bengkulu (Bobe) bersama Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia pada hari Rabu, tanggal 26 September 2018 menggelar Talk Show dengan tema ‘Budayakan Sensor Mandiri’. Adapun narasumber yang dihadirkan yakni, Ibu Mildaini, S.Pd., yang merupakan ketua Blogger Bengkulu (Bobe) serta Ibu Noor Saadah, M.Ikom., beliau merupakan perwakilan dari Lembaga Sensor Film Indonesia yang saat ini menjabat sebagai Anggota Komisi II, Bidang Hukum dan Advokasi. Acara ini dilangsungkan di The Fellowship of Konakito sebuah cafe yang mengusung suasana outdoor yang berlokasi di pinggir Pantai Tapak Paderi Bengkulu (berdekatan dengan Benteng Malborough, Bengkulu).
            Tentunya acara ini menarik untuk saya datangi, hal ini dikarenakan tema yang diusung merupakan salah satu tema yang menarik dalam bidang komunikasi, mengingat saya merupakan alumni komunikasi yang sudah lebih dari lima tahun mengkaji dan mempelajari mengenai beragam hal yang berkaitan dengan komunikasi dan media massa. Selain itu, acara ini digelar gratis bagi 100 pendaftar dan merupakan momen pertama bentuk kegiatan LSF (Lembaga Sensor Film) Indonesia yang diadakan di Bengkulu.

Trend Gaya Nonton di Indonesia dan Pentingnya Budaya Sensor Mandiri Khususnya bagi Para Blogger
            Mbak Milda mengawali talk show dengan amat ramah, pembawaan Mbak Milda yang cenderung santai namun tetap serius, mampu membuat para peserta terbawa suasana. Apalagi ketika Mbk Milda menjelaskan mengenai trend menonton masa kini. Sebelumnya Mbak Milda sempat mengajak peserta bercanda, “siapa di sini yang suka menonton film Korea?,”. Sontak saja peserta Talk Show yang wanita langsung tertawa mendengar hal ini.
Selanjutnya Mbak Milda menjelaskan mengenai kebiasaan menonton masyarakat Indonesia, yang terbagi menjadi tiga berdasarkan survei Nielsen (Mobile constumer report 2014 yang dilakukan pada 429 responden yang berusia 16-40 tahun); yakni Ibu Rumah Tangga (yang menonton 6 jam lebih dalam satu hari), para pria (yang menonton streaming sekitar 3 jam, jika berada di rumah dapat menonton 1-2 jam sehari), serta para millenial dan pekerja (yang lebih memilih untuk menonton streaming karena dirasa lebih efektif dan efisien). Penjelasan dilanjutkan dengan menjelaskan mengenai kisaran produksi film di Indonesia serta beberapa trend film yang ada di Indonesia.
Adapun poin utama yang disampaikan yakni berkaitan dengan betapa pentingnya memiliki budaya sensor mandiri, khususnya bagi para blogger. Hal ini dikarenakan para blogger merupakan pengguna smartphone yang paling sering berinteraksi dengan dunia maya, selalu update akan info film terbaru, seringkali menjadi buzzer dan promosi film, nobar (nonton bareng), melakukan review film,  serta senantiasa kritis pada film dan tontonan. Selain itu, sebgaai bentuk kesimpulan dalam mengakhiri penjelasannya, Mbak Milda menyatakan bahwa sensor efektif itu dilakukan dari rumah untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat secara luas. Sebelum benar-benar mengakhiri pembicaraannya, Mbak Milda juga memperkenalkan salah satu komunitas Film Lokal Bengkulu yakni Rafflesia Motion kepada para peserta.
  
Media Massa dan Generasi Millenial
               Era media konvergensi kemudian menghadirkan suatu istilah, yakni adanya generasi millenial dalam kancah perkembangan masyarakat. Hal inilah yang kemudian dijabarkan oleh Ibu Noor Saadah, M.Ikom.,  dari Lembaga Sensor Film Indonesia saat acara Talk Show LSF (Lembaga Sensor Film) bersama Blogger Bengkulu. Sebelum menjelaskan mengenai apa, bagaimana dan karakter dari kehadiran generasi millenial, Ibu Noor membuka penjelasannya tentang konsep media. Terdapat tiga konsep media yang dirangkum oleh Ibu Noor, pertama, media merupakan hasil konstruksi (Christ, 2004: 92-96 dalam Saadah, 2018). Dalam hal ini dapat dimaknai bahwa hal apapun yang terdapat di dalam media massa merupakan hasil konstruksi dari media tersebut terhadap lingkungannya. Contohnya, Ibu Noor menjelaskan mengenai trend kulit putih dan rambut lurus pada wanita di Indonesia, di mana wanita di Indonesia dianggap cantik apabila memiliki kulit yang putih dan berambut lurus. Hal inilah yang dinyatakan sebagai konstruksi media, di mana para konsumen wanita digiring opininya, bahwa cantik adalah ketika memiliki kulit putih dan berambut lurus. Padahal sebenarnya memiliki kulit sawo matang dan rambut keriting itu unik dan eksotis.


pict. dokumen pribadi. Ibu Noor Saadah dari LSF sedang menjelaskan materi Talk Show.
            
            Kedua, representasi media mengonstruksi realitas. Dalam hal ini, sebagai konsumen media, individu haruslah memiliki sikap ‘terbuka’, sehingga mampu memperluas pengetahuannya untuk memahami peristiwa yang ditampilkan media. Maksudnya adalah media merupakan representasi (perwakilan) dari dunia nyata yang telah dikonstruksi. Oleh karenanya, kita sebagai konsumen media harus memiliki sikap cerdas dalam menanggapi segala hal yang disiarkan oleh media massa. Cerdas bermedia inilah yang kemudian dikenal dengan istilah dengan literasi media. Ketiga, pesan media berisi nilai dan ideologi. Dalam hal ini, Ibu Noor menyatakan bahwa karena pesan media berisi nilai dan ideologi maka individu pengkonsumsi media harus bersikap kritis terhadap apapun yang diterimanya melalui media.
            Usai menjelaskan mengenai tiga konsep media, Ibu Noor melanjutkan penjelasannya mengenia kehadiran generasi millenial atau dikenal dnegan generasi Y. Generasi ini yang memiliki andil yang cukup besar pada era saat ini. Orang-orang generasi Y ini merupakan orang-orang yang produktif untuk masa sekarang. Generasi millenial ini dilahirkan pada tahun 1980 hingga 1997, generasi inilah yang amat terpapar dengan era digital atau konvergensi saat ini.
            Setelah menjabarkan secara jelas mengenai apa itu generasi millenial, Ibu Noor Saadah kemudian menjelaskan tentang pentingnya sensor mandiri bagi masyarakat, khususnya pada generasi millenial dalam mengkonsumsi media. Mengapa yang lebih diutamakan adalah para generasi millenial? Hal ini tentunya beralasan, dikarenakan generasi millenial merupakan generasi produktif masa kini yang senantiasa terpapar media, khususnya media digital. Generasi inilah yang mampu berperan aktif untuk mengkampanyekan mengenai sensor mandiri dalam penggunakan produk-produk media pada generasi sebelum dan setelah mereka.
            Sensor mandiri merupakan perilaku secara sadar dalam memilah dan memilih tontonan. Mengapa sensor mandiri amat penting? Hal ini dikarenakan kehadiran konvergensi media atau era digital saat ini, menjadikan setiap konsumen media mampu mengontrol kapan, di mana dan bagaimana mereka mengakses dan berhubungan dengan media itu sendiri. Masyarakat secara bebas memilih akses informasi yang mereka inginkan, di mana pun dan kapan pun. Terkhusus dalam mengakses informasi melalui tontonan, masyarakat harus mampu secara jelas menyensor hal apa saja yang penting atau tidak penting, sesuai atau tidak sesuai untuk mereka.
.....


Pict.dokumen pribadi. Para Penerima Doorprize dalam acara talk show Bobe bersama LSF

 Budaya sensor mandiri tentunya harus dimulai dari diri kita sendiri, karena sensor paling efektif berada pada diri kita masing-masing. Penjabaran dua narasumber yang inspiratif mengenai budaya sensor mandiri tentunya sangat bermanfaat bagi para peserta yang hadir saat itu. Adanya kampanye tentang budaya sensor mandiri ini merupakan suatu bentuk kampanye literasi media yang dapat mencerdaskan pengguna media massa.


Pict.Dokumen Pribadi. Berfoto Bersama Kedua Narasumber usai Acara Talkshow Bobe bersama LSF



Tulisan ini diikutsertakan pada kegiatan #NulisSerempak yang diadakan oleh Blogger Bengkulu beserta Lembaga Sensor Film Indonesia.