Top Social

Sekeping Cerita Berjudul Jodoh

Senin, 18 Januari 2021

          Adalah suatu hal yang tak bisa kita terka-terka, baik itu terkait dengan takdir kehidupan yang kita jalani, dengan siapa kita akan menjalaninya maupun dengan cara apa kita akan dikembalikan padaNya. Keseluruhan hal itu sudah tercatat dalam lauh mahfuudz, sudah tercatat dengan amat rapi. Oleh karenanya, tak ada sesuatu yang kebetulan di dalam dunia ini.

 

Usia 24, ketika Mama sudah sering bertanya.

          Bagi sebagian orang, mungkin usia 24 adalah masa di mana seseorang sedang asyik-asyiknya mengejar karir atau ada juga yang masih menyelesaikan studi, atau bisa jadi ada yang sedang sibuk mengurus keluarga. Nah satu di antara pengelompokan tiga orang tersebut ada aku di dalamnya, seseorang yang sedang menyelesaikan studinya. Saat itu sekitar tahun 2015 aku adalah salah satu mahasiswa tingkat akhir yang sedang berjuang menyelesaikan studi di tanah perantauan, yakni Yogyakarta. Jauh dari orang tua dan sanak keluarga, belum lagi saat itu aku menggunakan tongkat kruk karena patah kaki saat kecelakaan motor di Pacitan, belum lagi deadline tesis yang selalu memanggil-memanggil, membuat diriku terkadang seringkali menangis di kamar kost. Jika sudah tak kuat, terkadang tetangga kost menjadi tempat curahan hati yang paling pas untuk menumpahkan uneg-uneg. Mungkin saja sahabatku (orang asli Madiun), yang kamarnya berseberangan dengan kamarku sudah sangat maklum, ketika aku masuk kamarnya dan menangis sesenggukan karena kadang bingung mau menulis apa lagi dalam tesis. Bukan perkara mudah, karena entah mengapa, metode penelitian yang kupilih waktu itu cukup sulit untuk kupahami. Padahal awalnya metode itu kupilih karena kusangka mudah untuk dikerjakan, karena hanya studi literature saja tanpa harus menggunakan responden ataupun wawancara saat pengumpulan data. Namun ternyata setelah kudalami dan kukerjakan, metode itu amat sulit kupahami. Belum lagi judul yang kupilih, pada akhirnya menggiring aku untuk memahami politik populis, di mana literatur tentang politik populis sangat jarang sekali yang berbahasa Indonesia, sehingga aku harus menerjemahkan lembar demi lembar berbahasa Inggris sendirian tanpa bantuan penerjemah. Rasa-rasanya ingin menyerah di judul tersebut, namun menurutku sangat tanggung jika tidak diselesaikan dan harus mengulang dari awal dengan judul baru.

         

sumber gambar tokopedia.com
        Belum lagi telepon yang hampir setiap hari datang dari orang tua, khususnya mamaku, “Sudah sampai mana tesisnya? Jangan kebanyakan main ya, setiap hari harus dikerjakan, apalagi sekarang Bapak sudah pensiun, kamu harus segera selesai kuliahnya,” ujar mamaku setiap kali menelepon. Belum lagi nanti beliau bercerita bahwa anak teman-temannya sudah pada kirim undangan ke rumah. “Tuh Yu, mama sudah dapat undangan lagi dari anaknya ‘tante ini’ dan anaknya ‘tante itu’, kayaknya mereka seumuran kamu deh, kira-kira kamu kapan ya cetak undangan? Ngomong-ngomong kamu udah ada yang deketin belum sekarang? Harusnya tuh ya umur kayak kamu itu sudah ada calonnya,ya paling nggak orang yang mau ngajak  serius gitu,” ujar mamaku panjang lebar. “Iya deh iya, nanti juga kalau sudah ada jodohnya bakalan cetak undangan juga kok Ma, tenang aja,” jawabku. “Lah iya, kalau tidak ada usaha, mana ada jodoh tiba-tiba datang, minimal sudah ada ‘pegangan’ (pegangan di sini maksudnya orang yang dekat dengan anaknya menurut mamaku) gitu loh.” “Lah kalau pegangan itu ya ke Alqur’an dan hadits toh Ma, bukan sama orang lain, hehe,” aku kembali menjawab dengan nada bercanda.

          Ya begitulah hari-hariku saat itu di perantauan, aku hanya terus berdoa agar nantinya tesis ini segera selesai, sehingga bebanku yang cukup menyita waktu ku saat itu bisa terlepas. Walau kadang lelah melanda, tetapi aku tetap optimis untuk bisa selesai walau kondisiku saat itu terbatas. Benar-benar tak menyangka sebelumnya bahwa aku harus menggunakan kruk saat berjalan dan menumpang ojeg motor saat harus pulang pergi ke kampus. Tapi aku yakin, semua ini akan berakhir, semua ini akan selesai. Kadang ada saja hal-hal yang mungkin jika diingat sekarang cukup membuatku bersedih, ketika di mana aku seringkali hanya melamun di perpustakaan tanpa menulis apapun. Sampai-sampai diingatkan pegawai perpus bahwa perpustakaan akan tutup, sementara aku tak sadar kalau sudah taka da lagi pengunjung perpus saat itu. Belum lagi ada perasaan minder yang kadang menerpa, di mana orang lain bisa berjalan dan berlari, sementara aku hanya bisa berjalan sedikit demi sedikit dengan tongkat kruk. Tapi aku yakin, sangat yakin, suatu saat aku bisa sembuh juga.

          Dan ternyata satu persatu doaku terjawab. Setelah menulis tesis sekitar 10 bulan lamanya pascacuti (karena kecelakaan), akhirnya aku diberikan kesempatan untuk mengikuti sidang tertutup dan dinyatakan lulus di pertengahan tahun 2016. Merupakan suatu kenyukuran juga, karena saat menjalani sidang aku sudah tidak menggunakan kruk lagi dan saat wisuda aku sudah bisa berjalan dengan normal. Dan tentunya pertanyaan mamaku terkait jodoh masih saja berjalan, “kira-kira kapan nih anak mama kirim undangan?.”

 

Kembali dari Perantauan

            Sesudah wisuda, aku pulang kembali ke Bengkulu. Saat itu aku menjadi salah satu tenaga pengajar di salah satu universitas swasta di Kota Bengkulu. Selain itu aku juga menjadi tenaga pengajar di IAIN Bengkulu dan juga UT (Universitas Terbuka). Jam mengajarku cukup padat saat itu karena harus mengajar di 3 universitas sekaligus. Belum lagi aku juga harus mengajar di luar Kota Bengkulu, karena mengajar UT.

sumber gambar elevenia.co.id

                Karena saat mengajar aku masih lajang, ada saja orang-orang di tempatku bekerja yang menjodoh-jodohkan diriku dengan rekan kerja lainnya. Belum lagi mahasiswa-mahasiswa iseng yang terkadang menjodohkan aku dengan teman-temannya, menurutku ada-ada saja mereka ini, maklum, karena saat itu aku memang sedang tidak dekat dengan siapa-siapa. Karena menurutku, untuk seusiaku saat itu, bukan saatnya lagi untuk main-main berkenalan dengan lawan jenis. Aku tentunya lebih memilih untuk berkenalan dengan orang lain yang memang mau mengajakku serius.

          Tentunya bukan satu dua kali teman-temanku menjodohkanku. Tapi entah mengapa aku yang saat itu kurang sreg atau terkadang malah ditinggal menikah duluan tanpa ada petemuan di awal (jadi cuma sekedar dijodoh-jodohkan saja, kasian bener sih aku waktu itu :D). Aku sih hanya bisa menguatkan doa saja, semoga aku dijodohkan dengan orang yang sholeh dan juga sesuai dengan kriteriaku tentunya, aku ingin sekali memiliki jodoh seorang dosen, tapi kalau memang bukan dosen tak apalah, yang penting sholeh.

 

          Ketika Harus Memilih

Di antara 3 pilihan
Sumber Gambar shopee.co.id

Pilihan Pertama

  Seiring berjalannya waktu, aku hanya menyibukkan diriku dengan bekerja. Aku menikmati hari-hariku sebagai seorang pengajar saat itu. Singkat cerita ada suatu pekerjaan yang membuatku harus sering lembur di kampus swasta tempat aku mengajar. Tentunya saat lembur hingga malam hari, kami juga ditemani dengan rekan kerja laki-laki. Saat itu ada satu rekan kerja yang seringkali aku tanyakan soal pekerjaan yang sedang dikerjakan dan otomatis aku cukup sering berinteraksi dengannya. Pada akhirnya bukan saja urusan pekerjaan yang sering kami diskusikan, tetapi juga seringkali bertanya tentang tahun lahir dan keluarga masing-masing. Belum lagi kami seringkali berbagi cerita tentang visi misi hidup ke depannya dan menurutku saat itu kami satu visi misi, namun ternyata rekan kerjaku saat itu terpaut usia dua tahun di bawahku.

          Karena seringkalinya kami berinteraksi, maka rekan kerja kami yang lain seringkali mengganggu kami, bahkan ada yang bilang, “sudah buruan lamar saja, nanti keburu diambil orang.” Tentunya rekan kerjaku saat itu hanya tersenyum saja. Kalau ditanya saat itu, tentunya rekan kerjaku ini memenuhi salah satu kriteriaku, karena saat itu ia juga seorang tenaga pengajar di perguruan tinggi. Tapi ya aku biarkan saja mengalir apa adanya, toh menurutku kami juga baru saja berkenalan. Walaupun terkadang pembicaraan kami ada yang mengarah-arah ke arah pernikahan.

 

Pilihan Kedua

          Mengajar di UT mengharuskan aku untuk mengajar di luar Kota Bengkulu. Salah satu Kabupaten yang berjarah 4 jam dari kota Bengkulu saat itu menjadi tempatku untuk mengajar di sana setiap hari Sabtu dan Minggu. Qadarullah, saat itu salah satu temanku sesama orang Bengkulu baru saja menyelesaikan studi Masternya di UGM dan sedang mengunjungi kedua orang tuanya di kabupaten tempat aku mengajar.

          Temanku yang saat itu mengetahui bahwa aku sedang mengajar di sana, seringkali mengunjungiku di tempat mengajar seusai aku mengajar dan suatu hari, ia mengundangku untuk makan siang dan berkenalan dengan keluarganya. Ia berkata padaku bahwa aku adalah satu-satuya teman perempuan yang ia perkenalkan pada keluarganya. Dan saat lebaran tiba, ia juga berkunjung ke rumahku dan aku berkunjung ke rumah tantenya. Saat aku berkunjung ke rumah tantenya, aku malah ditanya pertanyaan yang membuatku cukup terkejut,”Ayahnya itu sudah ingin menantu, keponakanku itu orang yang baik loh,jadi tunggu apalagi?.” Aku hanya tersenyum, “Loh Tante, aku ini cuma temenan  loh sama keponakan Tante,” ujarku saat itu. Saat aku ceritakan perihal pertanyaan itu pada temanku, dia malah berkata,”Kenapa tidak diiyakan saja sih,” ujarnya sambil tersenyum.

          Entahlah aku juga tak mengerti saat itu apa maksud semua ini, yang jelas ketika ia bertanya padaku, kriteria pasangan hidupmu apa sih? Lagi-lagi aku menjawab, kalau bisa sih dosen. Dan dia hanya menjawab, sayangnya aku bukan dosen. Tapi aku berkata lagi pada waktu itu, kan kalau bisa, kan yang penting sholeh. Dan selanjutnya tak ada lagi pembicaraan soal jodoh atau apalah itu terkait pernikahan, walau  sesekali waktu kami masih bersilaturahmi melalui pesan WA.

 

Pilihan Ketiga

          Aku yang saat itu masih ingin mendapatkan kesempatan bekerja di tempat lain,mencoba untuk mencari link-link yang tentunya membuatku bisa mendapatkan informasi tentang lowongan pengajar. Saat aku membuka salah satu profil pertemanan di Fb ada profil salah seorang pengajar di Universitas Bina Nusantara Jakarta. Tak lama setelah aku add pertemanan,orang tersebut justru mengirim message Fb padaku. Ia berterima kasih padaku karena sudah menjadikan ia temannya dan ia bertanya padaku apakah aku ke Bengkulu ikut suami atau bagaimana. Ya jelas bukan ikut suami, toh menikah saja belum. Aku juga ingat,kalau orang ini sepertinya dulu pernah sekelas denganku saat di UGM, hanya saja ia adalah mahasiswa S3 yang ikut kelas kami saat itu karena dosennya sama. Aku juga ingat bahw aku sering berpapasan dengannya saat di perpustakaan pusat, tetapi kami sama sekali tak pernah saling sapa.

          Hingga akhirnya, orang ini meminta nomor WAku. Entah apa yang membuat ia seringkali bertanya padaku layaknya orang yang sedang sensus penduduk. Adapun pertanyaannya seperti, orang tua kerja di mana, berapa bersaudara, asal orang tua dari mana, kriteria suami bagaimana. Loh menurutku kok orang ini aneh sekali, baru juga kenal kok pertanyaannya banyak sekali.Sampai-sampai aku curhat dengan sahabatku, kenapa orang ini, kok banyak sekali tanya? Sahabatku kemudian berinisiatif bertanya padanya perihal pertanyaan-pertanyaan yang ia berikan padaku. Sahabatku bertanya padanya melalui pesan FB  maksudnya apa ya bertanya begitu dengan Yue? Kalau memang mau mencari jodoh, sahabatku itu juga sedang mencari jodoh, jadi jangan kebanyakan basa-basi. Pesan sahabatku dijawab iya saya sedang mencari jodoh, tetapi saya ingin selesaikan studi doktoral dulu yang akan selesai sebentar lagi dan nanti saya insyaAllah akan ke Bengkulu.

          Saat itu tentunya ada rasa GR di dalam diriku, tetapi ah apalah artinya kata-kata kalau tanpa pembuktian. Malah ada beberapa waktu saat itu kami lose contact. Aku pasti merasa kecewa, dalam pikiranku ah sudahlah mungkin belum jodohnya,memang belum waktunya aku menikah dalam waktu dekat ini.

 

Saatnya Membuat Keputusan

          Hari demi hari berlalu, untuk ketiga orang ini, masih saja memberikan kabarnya melalui pesan WA padaku. Apalagi rekan kerjaku itu, sekali dua waktu pasti kami bertemu.Walau mengajar di satu kampus yang sama, namun gedung kuliah kami berjauhan sehingga kami tak sering bertemu. Untuk temanku yang satu itu (yang baru saja lulus UGM), ia sedang berjuang mencari pekerjaan, hingga kabar akhir kuterima darinya bahwa ia telah diterima menadi salah satu tenaga kontrak di salah satu dinas pemerintahan di Pulau Jawa.

Aku hanya berdoa, siapapun di antara ketiga orang ini yang akan mengkhitbahku terlebih dahulu, maka itulah yang akan aku terima, siapapun itu. Karena menurutku, tak baik juga berlama-lama melajang, apalagi terkadang interaksi yang menurut kita biasa-biasa saja melalui pesan WA, bisa jadi dianggap berbeda oleh orang lain.

   

Finally
Sumber gambar : bungabuket.com

              Hingga pada akhirnya aku pun mendengar kabar, bahwa pak Dosen dari Binus sudah selesai ujian disertasinya dan ia menghubungiku bahwa akan ke Bengkulu dalam waktu dekat. Saat ke rumah orang tuaku sama sekali ia tak membicarakan tentang pernikahan, hanya seperti bersilaturahmi biasa saja. Aku juga bingung pada awalnya. Hingga akhirnya sebelum ia pulang kembali ke Jakarta,aku mengantarkan sarapan ke hotel tempat menginapnya yang ada di Panorama, Lingkar Timur saat itu (ternyata perkara mengantar makanan untuk sarapan inilah yang kemudian membuatnya yakin bahwa akulah orang yang tepat untuk menjadi teman hidupnya; hal ini kuketahui setelah kami menikah :) ).

           Saat ia tiba di Jakarta, saat malam hari ia memberikan pesan WA padaku, isi pesan WA nya ‘ada baiknya kita menikah saja’. Aku saat itu cukup terkejut, lalu aku mengirim pesan balasan ‘yang benar ini? Masa iya?’ Dan jawabannya ‘iya’. Aku menceritakan pada mamaku perihal ini dan mamaku berkata kalau memang serius, silahkan datang kembali ke rumah dan langsung melamar dalam waktu dekat. Selang dua bulan, ia pun kembali ke rumah dan langsung melamarku. Walau setelah lamaran, rekan kerjaku berkata bahwa rekan kerjaku sesama pengajar di Bengkulu yang kuceritakan sebelumnya berencana akan melamarku juga dalam waktu dekat dan ternyata terlambat karena aku sudah dilamar. Saat aku datang ke kampus dan mengantar udangan padanya, ia berjanji akan datang, walau akhirnya kami tak pernah bertemu lagi hingga saat ini.

 

Yakinlah, Suatu Waktu Doamu akan Terkabul

          Ternyata, perkara jodoh itu mudah jika sudah waktunya. Sedari dulu aku memang menginginkan pasangan hidup seorang dosen dan akhirnya Allah kabulkan. Walaupun memang banyak ujian yang harus dijalani sebelum menemukannya. Dan pasti akan banyak ujiannya sebelum terkabulnya doa-doa tersebut.

          Tentunya banyak sekali lika-liku yang harus dilewati sebelum bertemu dengan jodoh. Bukan sekali dua kali aku merasa sepertinya ini adalah jodohku, walau terkadang saat sudah merasa klop, tetap ada saja halangan dan rintangan, hingga akhirnya tak jadi. Memanglah sabar dan doa yang akhirnya menjadi teman penantian saat itu, hingga akhirnya penantian itu berujung juga.     

         

Sekeping Cerita yang Semoga dapat menjadi Hikmah


10 komentar on "Sekeping Cerita Berjudul Jodoh"
  1. Wah, speechless saya mbak... semoga menjadi pasangan sehidup sesurga mbak... doakan saya segera ketemu juga hehee...

    BalasHapus
  2. Perjalanan jodoh emang unik ya mba, gabisa ditebak-tebak. Tapi gimana pun semoga berjodoh dengan dia yang baik, dengan yang membawa ke arah lebih baik :))

    BalasHapus
  3. Lumayan terhanyut dengan tulisannya, seakan baca novel roman dech...harapan adalah do'a. Alhamdulillah Alkah kabulkan do'anya dapat suami seorang dosen.
    Saya dulu punya harapan suami yang sholeh dan tidak merokok dan tidak pakai celana jeans. Alhamfulillah Allah kasih sesuai harapan....

    BalasHapus
  4. Cerita yang luar biasa. Jodoh adalah misterius problem, allah mudahkan aamiin

    BalasHapus
  5. Manis sekali mbak. Membaca cerita ini membuat fikiran ku melayang jauh. Tentang beberapa orang yang dulu pernah dekat denganku sebelum memutuskan menerima suami yang sekarang. Hehee..

    BalasHapus
  6. Masyallah dek Yue. Berada di posisi dek yue saat itu tentu bukanlah perkara mudah ya. Menghadapi ketidakpastian kala itu. Alhamdulilahnya berujung manis ya. Aamiin.

    BalasHapus
  7. Relate banget mbak ama keadaanku saat ini, udah masuk usia 24 tapi masih asyik ningkatin level studi dan karir. Ujung-ujungnya dari ortu, keluarga besar, dan tetangga pada nanyain kapan naek pelaminan wkwkwk

    BalasHapus
  8. Do you have the same age with me to planning our wedding. I am looking for my husband as 2 years. Alhamdulillah now we are be able wife and mom. I hope we are keep fighting be able good person

    BalasHapus
  9. Wuih seru bacanya. Alhamdulillah sesuai kriteria semua ya Mba jodoh dari-Nya. Emang kalau masalah jodoh gak perlu diburu-buru.

    BalasHapus
  10. alhamdulillah, happy ending. aku suka kalo baca yang beginian. semoga samawa till jannah ya mbak

    BalasHapus