Top Social

Aku dan Klinik (Kandungan) Kartika Jakarta Barat

Kamis, 04 November 2021

Relasi antar pribadi seorang pasien dan dokter haruslah baik, apalagi pasien adalah seorang ibu yang sedang mengandung.


Awal Kehamilan

            Waktu awal hamil dulu aku baru saja hijrah dari Bengkulu ke Jakarta Barat. So, aku sama sekali masih minim info tentang beberapa tempat penting yang ada di sini. Ditambah kondisiku yang baru saja resign kerja dari dosen di Bengkulu dan memilih menjadi full time Wife, membuat circle kehidupanku menjadi terbatas. Aku hanya memiliki beberapa tetangga ibu-ibu yang kumintai pendapatnya mengenai klinik kesehatan, terutama klinik yang berkaitan dengan kandungan.

            Qadarullah, awal pernikahanku, Februari 2018, aku sempat merasakan kondisi yang agak aneh pada siklus bulananku. Aku sempat seperti orang yang sedang haid 1 hari, namun berhenti di keesokan harinya. Suami sampai bilang, “jangan-jangan kamu bukan haid?.” Tapi aku tetap kekeuh bahwa aku haid walau memang kondisi saat itu memang haidku hanya 1 hari saja. Aku meyakinkan diri saja, bisa jadi karena kecapekan, jadi berhenti sehari, terus besok haid lagi, karena memang aku pernah begitu saat dulu. Tapi qadarullah, haidku saat itu benar-benar 1 hari. Aku makin bingung, sementara perutku sakit seperti orang yang lagi nyeri haid, tapi kok haidnya malah berhenti?.

            Aku pun mencoba menghubungi temanku saat itu yang sudah memiliki dua anak. Aku mintai pendapatnya. Ia menyarankan kepadaku untuk membeli testpack. Tapi menurutku kok malah harus testpack sih?, kan kemarin haid?. Jujur aku bingung, tapi temanku masih saja meyakinkanku untuk membeli testpack. Aku masih saja belum yakin, hari itu juga kuhubungi iparku via telepon. Iparku sudah memiliki dua orang anak, jadi menurutku ia pasti berpengalaman. Sarannya pun sama, coba beli testpack esok hari, coba saat bangun tidur di shubuh hari. Aku pun segera menghubungi suami, aku memintanya untuk membelikanku testpack di apotik saat pulang kerja.

            Keesokan pagi, untuk pertama kalinya aku tes kehamilan menggunakan testpack. Hasil dua testpack dengan merk berbeda sama-sama dua garis, namun garis yang satu lagi samar-samar. Aku masih belum yakin, apa iya aku hamil?, toh yang satu itu garisnya samar-samar. Daripada aku tambah bingung, aku minta kepada suami untuk diantar ke salah satu Rumah Sakit di daerah Jakarta Barat. Suamiku mengiyakan, ia akan mengantarkanku ke RS sebentar sebelum akhirnya ke kantor, kemudian aku akan mengantri dokter sendiri nanti di sana. Suamiku meminta agar aku memilih dokter kandungan perempuan saja. Aku pun mengiyakan.

            Tiba di tempat pendaftaran, aku mendapat kabar bahwa dokter kandungan yang perempuan baru akan praktek sekitar jam 11.30 wib. Menurutku itu waktu yang cukup lama, sementara aku di sini sendirian, tidak ada teman, apalagi kenalan. Baterai handphone pun tinggal sedikit, aku tak membawa casan atau pun powerbank. Ya Allah, rasanya ngenes, mana buku bacaan pun aku tak bawa. Tapi suamiku tetap kekeuh agar aku menunggu dokter perempuan datang. Aku pun sabar menanti, sementara orang-orang sudah silih berganti datag ke ruangan praktek. FYI, di Rumah Sakit ini, praktek dokter kandungan tidak hanya satu, melainkan ada beberapa dokter, sekitar 5 dokter, namun dokter perempuan saat itu hanya ada 3 dokter yang notabene praktek di siang atau sore hari.

            Saat aku sudah jenuh menunggu, ada seorang ibu paruh baya menegurku, “Mbak nya mau ke Dokter siapa?, mau periksa kehamilan ya?,”

            “Iya Bu, saya menunggu dokter perempuan Bu,” ujarku.

            “Oh sama seperti anak saya, suaminya juga sarankan begitu, tapi dokter perempuannya juga belum hadir tuh, ini sudah mau jam 12.00 wib. Kami juga sudah menunggu sejak pagi. Kalau menurut saya, tidak apa Mbak dokter kandungannya laki-laki, toh nanti di dalam juga ada perawat kok, jadi aman. Daripada capek menunggu lama.”

            “Iya sih Bu, sebentar saya izin suami dulu Bu, iya saya juga sudah capek Bu ini, menunggu dari pagi,” aku pun mencoba untuk menghubungi suami dan meminta izin.

            Alhamdulillah suami mengizinkanku setelah aku yakinkan. Aku pun mendaftar ke Dokter Kandungan laki-laki. Saat diperiksa, dokter mengatakan bahwa ini sudah ada detak jantungnya. Usia kandungan sudah 4 minggu, insyaAllah jika bayi sehat, akan lahir di bulan Oktober 2018. Aku agak terkejut saat itu, antara senang tapi kaget, bisa dibilang juga belum siap. Tapi aku mencoba untuk membesarkan hati, aku siap jadi ibu, insyaAllah.

 

Berganti-Ganti Dokter Kandungan

Sumber Gambar pngdownload.id

            Pengetahuan akan dokter praktek kandungan di Jakarta Barat yang masih minim, membuatku akhirnya memilih Rumah Sakit untuk tempat kontrol awal kehamilan hingga usia kehamilan sekitar 4 bulan. Atas saran suami, aku pun harus memeriksakan kandungan dengan dokter kandungan perempuan. Namun, aku sama sekali tak nyaman jika harus menunggu antrian hingga setengah hari setiap ingin memeriksakan kandungan. Belum lagi perasaan kurang klop yang kudapatkan saat konsultasi dengan dokter di sana, membuatku sempat beberapa kali ganti dokter kandungan.

            Aku pun mengatakan pada suami untuk mencari klinik kandungan yang lain saja, jangan ke Rumah Sakit. Rasanya sungguh melelahkan ketika mengambil nomor antrian jam 5.30 wib sementara dokter hadir dalam waktu yang kurang bisa diprediksi. Aku akui dokter perempuan di sana ada yang menjelaskan kondisi kandunganku secara mendetail, namun secara psikologis aku merasa kurang klop saja. Sudah dua dokter yang terkadang aku bertanya, justru malah menjawab dengan kalimat pedas dan menurutku kurang sesuai. Aku sempat pulang dengan menangis karena sebal dengan tanggapan salah satu dokter kandungan yang mengatakan bahwa aku hobi ‘jajan dokter’ karena sering gonta ganti dokter kandungan. “Terus selanjutnya Ibu mau ke dokter mana lagi Bu?,” kata-kata itu masih terngiang di pikiranku hingga saat ini.

            Menurutku, tidak seharusnya seorang dokter kandungan berkata pedas apalagi sampai menyindir seorang pasien dengan notabene sedang hamil. Wajar jika seorang pasien secara pribadi mengganti dokter spesialis yang ia datangi, toh secara pribadi ia membayar, tidak gratis. Wajar jika ia ingin mendapatkan pelayanan yang baik dan professional, baik secara penanganan ataupun relasi antar pribadi. Wajar jika seorang ibu hamil yang baru pertama hamil memiliki beberapa pertanyaan, tak ada salahnya untuk menjawab dengan baik dan ramah, bukan malah menjawab dengan kalimat yang pedas, alih-alih menyindir.

Bertemu Klinik Kartika

            Akibat dari istilah ‘jajan dokter’, aku pun sama sekali tak ingin kembali lagi ke RS itu untuk memeriksakan kandungan. Aku berusaha untuk mencari klinik kandungan yang ada di sekitaran Palmerah, Jakarta Barat. Bertemulah aku dengan Klinik Kartika, Tomang, Jakarta Barat. Aku mencari informasi terkait klinik ini melalui google. Dengan mengendarai gocar, aku dan suami pun mengunjungi klinik kartika. Di sana banyak dokter kandungan perempuan. Kliniknya pun tidak terlalu besar, namun juga melayani proses lahiran normal.

            Di sana aku bertemu dengan dokter kandungan yang amat ramah, bersedia aku tanyakan apa saja terkait kehamilan. Aku sangat ingat tentang dokter Raisa, SPOg yang seringkali aku temui. Dokter Raisa amat ramah, dan lagi dokter Raisa berparas cantik, sepertinya keturunan Chinese. Sebenarnya aku sangat berharap konsultasi dengan Dokter Kartika Hapsari, SP.OG-FNVOG. Kabarnya Dokter Kartika amat sangat ramah.

            Permintaanku dikabulkan Allah, walau saat itu aku konsultasi untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya aku terbang ke Bengkulu, karena memilih bersalin di Bengkulu. Dokter Kartika memang sangat ramah, orangnya asyik diajak konsultasi, beliau sangat welcome dengan beberapa pertanyaan yang aku berikan. Aku sampai berniat untuk konsultasi dengan dokter ini lagi nantinya kalau untuk kehamilan anak kedua. Pokoknya kalau bisa, ingin ditangani dokter Kartika, aamiin.

            Klinik Kartika beralamat di Jalan Kamboja Raya No. 19B, Bambu Utara, Palmerah, RT.12/RW.5, Kota Bambu Utara, Kecamatan. Palmerah, Jakarta Barat. Klinik ini memang tidak terlalu besar dari segi bangunan. Lantai 1 digunakan untuk praktek dokter serta ruang tunggu dan pendaftaran, sementara lantai 2 untuk ruangan persalinan dan rawat inap. Info lebih lanjut bisa follow instagram Klinik Kartika.

            Di klinik kartika tersedia fasilitas USG 2dimensi – 4 dimensi, pemasangan IUD, konsultasi terkait Rahim, USG transvaginal, beserta layanan papsmear. Dokter yang praktek pun merupakan para dokter spesialis kandungan yang sudah ahli di bidangnya dan yang terpenting adalah sangat welcome. Info banget nih buat para Bunda yang ingin memeriksakan kandungannya, kalau menurutku sih ke klinik Kartika Tomang Jakarta Barat aja.

 

 

4 komentar on "Aku dan Klinik (Kandungan) Kartika Jakarta Barat"
  1. nah ini kisah yang menarik buat referensi kalau ini bisa menjadi renungan ya kak bagi tenaga kesehatan buat jaga hati para pasien, intinya gini deh kita saling membutuhkan ya ga kak?

    BalasHapus
  2. Aku yang bacanya aja kesel. Udah tau ibu hamil itu moodnya berubah-ubah yah. Lebih sensitif. Bisa-bisanya ngomong gitu ke pasien. Padahal wajarlah cari dokter itu yang klop. Syukurnya sekarang sudah ketemu yaah dokter perempuan yang ramah.

    BalasHapus
  3. Kalau aku jadi mbak, mungkin juga bakalan gonta-ganti dokter sampai ketemu yang cocok. Tapi aku di Kaur sini, cuma ada satu SPOG. alhamdulillah nyaman meski ia cowok, apalagi ia faham agama. Juga ada bidan disini buat periksa. Alhamdulillah nyaman juga. Ia profesional dan melayani banget meski kalau dari raut wajah seperti terlihat tak ramah.

    BalasHapus
  4. kalau dokternya ramah & enak diajak ngobrol bikin nyaman pas konsultasi

    BalasHapus